Showing posts with label islam. Show all posts
Showing posts with label islam. Show all posts

Sunday, August 9, 2020

Makna Sosial Silaturahim [puasa hari ke-26]

Silaturahim bukan hanya tatap muka atau temu kangen dengan keluarga dan teman-teman. Silaturahim mengandung makna humanis yang mungkin saja bisa membawa hidup kita menjadi lebih baik dari sebelumnya. Kata silaturahmi dan silaturahim sangat popular di Indonesia. Dua kata itu bukan hanya milik umat islam, tetapi hampir sebagian besar penganut agama lain pun ikut menggunakan dua kata yang penuh makna itu dalam kehidupan sehari-hari.

Kata silaturahmi dan silaturahim sudah menjadi simbol budaya masyarakat Indonesia, baik dalam tatanan komunikasi sosial maupun komunikasi non-public. Secara umum kata silaturahmi dan silaturahim di negeri garuda ini lebih banyak diartikan sebagai saling kunjung-mengunjungi kepada sanak saudara, bertamu ke rumah teman atau pulang kampung bertemu orang tua dan keluarga saat hari raya keagamaan. Dalam konteks ini, kata silaturahmi dan silaturahim diterjemahkan sebagai bentuk komunikasi tatap muka atau komunikasi langsung.

Sebenarnya ada perbedaan sangat mendasar antara kata silaturahmi dan silaturahim. Silaturahmi berasal dari dua kata yaitu silah yang artinya menyambungkan dan rahmi yang mengandung arti rasa nyeri yang diderita seorang ibu ketika melahirkan. Itu sebabnya kebencian, kedengkian dan konflik masih terus terjadi di Indonesia walaupun silaturahmi sudah terjalin. Mengapa? Karena yang kita pakai adalah kata silaturahmi yang berarti menyambung rasa nyeri.

Sedangkan kata silaturahim berasal dari kata silah yang artinya menyambungkan dan rahim berarti kekerabatan. Jadi silaturahim ialah menyambung kekerabatan diantara sesama makhluk hidup ciptaanNya.

Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda, “Belajarlah dari nasab kalian yang dapat membantu untuk silaturahim karena silaturahim itu dapat membawa kecintaan dalam keluarga dan memperbanyak harta serta memperpanjang umur”.

Dalam konteks sosial, masyarakat Indonesia seringkali menjadikan ajang silaturahim sebagai bentuk pamer harta dan benda (ketika berkunjung ke rumah sanak saudara memakai perhiasan mewah dan membawa oleh-oleh yang berlebihan). Terkadang dalam prosesnya, silaturahim juga dijadikan sarana untuk membicarakan hal-hal yang bersifat kabar burung (gosif) atau mencari dukungan massa dalam aktivitas politik (pilkada atau pilpres).

Sebenarnya, makna silaturahim ialah saling mendo?Akan, saling menolong, saling berbagi rezeki, saling mengingatkan dan selalu memberi kebaikan antar sesama makhluk ciptaan Tuhan. Sudahkah kita melakukan silaturahim dengan baik dan benar? Wassalam...

Selamat berbuka puasa bro...[ Wawan Kuswandi ]

Indocomm.Blogspot.Co.Identification

www.Fb.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

@wawan_kuswandi

#INDONESIAComment

@wawankuswandi

@indonesiacommentofficial

ICTV Televisi Inspirasi Indonesia

THE WAWAN KUSWANDI INSTITUTE

Deenwawan.Photogallery.Com

Foto: Ist

Friday, July 31, 2020

Saat Ramadhan, Pilihlah Dakwah Progresif Edukatif (puasa hari ke-15)

Saya bersyukur kepadaNya karena di Indonesia saya bisa belajar ilmu agama islam bukan hanya dari buku-buku, sekolah non formal keagamaan atau institusi/sekolah khusus keagamaan (pesantren) yang banyak bertebaran di Indonesia, tetapi juga bisa melalui media massa dan sosial media (dengan catatan saya harus mengkritisi setiap artikel yang ada).

Namun, ditengah-tengah tingginya rasa syukur, saya masih merasa prihatin ketika melihat banyaknya pemimpin umat islam yang dalam syiar agama atau berdakwahnya tidak lagi sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW.

Banyak para pendakwah islam, saat berceramah lebih banyak mengutamakan unsur menghujat, mengumbar kebencian, mengecam, mendiskreditkan atau mengklaim dirinyalah yang paling benar dan pantas untuk diikuti.

Sedikitnya ada 3 (tiga) version dakwah islam yang selama ini saya temui yaitu :

1. Dakwah islam provokatif. Dakwah ini dilakukan para pendakwah islam dengan mengumbar kebencian atas adanya perbedaan keyakinan atau prinsip-prinsip dasar keagamaan. Kalimat yang dilontarkan dalam dakwah ini sengaja diciptakan untuk menyulut emosi jamaah. Contohnya ialah ungkapan mengkafir-kafirkan penganut agama lain atau dengan mudahnya mengeluarkan pernyataan bid’ah terhadap sesama penganut agama yang sama. Dakwah provokatif bisa melahirkan permusuhan antarumat beragama. Umumnya, dakwah provokatif banyak dilakukan oleh para pemimpin ormas keagamaan atau oleh pendakwah islam yang memiliki kepentingan tertentu.

2. Dakwah islam statik dogmatik. Dakwah ini dilakukan para pendakwah islam dengan materi yang sangat sederhana, tidak ada inovasi atau analisis dan penafsiran mendalam terhadap ajaran agama islam. Dakwah ini membuat jamaah pasif dan tidak kritis serta tidak mampu melihat agama islam dalam konteks yang lebih luas untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Dakwah islam statik dogmatik banyak dilakukan oleh para pendakwah yang tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman luas dalam ilmu agama islam.

3. Dakwah islam Progresif edukatif. Dakwah ini dilakukan para pendakwah islam dengan materi yang informatif, progresif, komprehensif dan edukatif. Dakwah edukatif lebih banyak memberikan pengajaran, pengarahan dan bimbingan mendalam tentang agama islam kepada jamaah. Dakwah ini membuat jamaah menjadi lebih cerdas dan berkualitas dalam beragama. Dakwah edukatif banyak dilakukan oleh para pendakwah islam yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang sangat luas. Sekarang, mana dakwah yang Anda pilih?

Selamat berbuka puasa bro...[ Wawan Kuswandi ]

LIHAT JUGA:

www.Facebook.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

Indocomm.Blogspot.Com

#INDONESIAComment

@INDONESIAComment

@Indonesiacommentofficial

ICTV Televisi Inspirasi Indonesia

THE WAWAN KUSWANDI INSTITUTE

Deenwawan.Photogallery.Com

Foto: ist

Wednesday, July 22, 2020

Mudik, Perjalanan Spiritual di Akhir Ramadhan (puasa hari ke-20)

Mudik alias pulang kampung menjelang hari raya Idul Fitri, Natal dan Imlek sudah menjadi pemandangan biasa di Indonesia. Bejibunnya warga pendatang di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, menjadikan mudik sebagai tradisi massif yang hampir menjadi sebuah kewajiban.

Tradisi mudik juga terjadi di negara-negara lain di dunia. Momen mudik di Indonesia identik dengan perjalanan fisik seseorang menuju daerah tujuan tertentu, baik yang berjarak jauh maupun dekat. Pertanyaannya ialah pentingkah mudik bagi kita?

Penting atau tidaknya mudik tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Mudik menjadi sangat tidak penting ketika mudik dimaknai sebagai bentuk menyombongkan diri saat bertemu keluarga dan para tetangga di kampung. Mudik menjadi tidak penting ketika kita melalaikan kewajiban ibadah dalam perjalanan. Mudik menjadi tidak penting ketika kita melalaikan keselamatan dalam perjalanan pulang kampung. Mudik menjadi tidak penting ketika kita berfoya-foya dengan berbagai kemewahan di kampung. Mudik menjadi tidak penting ketika kita tidak saling berbagi rezeki kepada keluarga dan sanak saudara yang ada di kampung. Mudik menjadi tidak penting lagi, ketika kita menjadikan mudik hanya sebagai simbol status sebagai seorang perantau sukses dan masih banyak lagi cerita-cerita mudik yang tidak penting. Ujung-ujungnya, mudik alias pulang kampung tidak lebih hanya sekadar euphoria fisik secara massal.

Namun, mudik akan menjadi sangat penting ketika kita memaknai pulang kampung sebagai perjalanan spiritual dalam menjalankan ibadah puasa sebelum merayakan hari raya Idul Fitri atau Idul Adha. Mudik menjadi sangat penting bila didasari oleh niat tulus kita untuk bertemu dengan keluarga, orang tua dan sanak saudara. Mudik menjadi sangat penting ketika bathin kita mengucap rasa syukur kepada Tuhan atas segala nikmat perjalanan rohani dan jasmani selama menjalankan ibadah.

Mudik menjadi sangat penting ketika kita berniat mempererat dan menyambung tali silaturahim yang pernah terputus dengan keluarga. Mudik bukan hanya sebatas perjalanan fisik semata, tetapi merupakan wujud hijrah bathin seseorang.

Mudik, menurut sosiolog Emile Durkheim (1859-1917) disebut dengan solidaritas organik. Mudik bisa menjadi salah satu jalan melanggengkan solidaritas organik, ketika masyarakat sebelum dan sesudah hari raya kadang sibuk dengan urusan masing-masing yang bisa saling melupakan silaturahim antarsesama.

Dengan mudik akan terjalin proses interaksi sosial (social contact), dengan itu kita bisa meluangkan perasaan-perasaan yang ingin disampaikan kepada orang lain. Mudik merupakan sebuah nilai sosial yang kemudian kembali terjalin terhadap sesama keluarga, tetangga, maupun sahabat. Sudahkah Anda menjadikan mudik sebagai perjalanan religious pribadi secara lahir dan bathin? Jawabannya hanya Anda yang tahu.

Selamat berbuka puasa bro...[Wawan kuswandi]

LIHAT JUGA:

www.Fb.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

Indocomm.Blogspot.Com

#INDONESIAComment

@indonesiacommentofficial

@INDONESIAComment

ICTV Televisi Inspirasi Indonesia

THE WAWANAN KUSWANDI INSTITUTE

Deenwawan.Photogallery.Com

Foto: ist

Friday, July 17, 2020

Ramadhan Momentum Hijrah Menuju Muslim Cerdas Berkualitas (puasa hari ke-13)

Agama sangat penting bagi kehidupan manusia. Tetapi, akan jauh lebih sempurna lagi, bila manusia dalam menjalankan ajaran agamanya selalu memegang prinsip kedamaian di tengah-tengah banyaknya perbedaan agama. Umat muslim Indonesia wajib mengkritisi banyaknya pernyataan oknum yang mengaku sebagai tokoh agama, pemimpin ormas atau politisi yang cenderung bersifat menghujat, memecah-belah dan menciptakan konflik antarumat beragama.

Siapapun yang mengaku tokoh agama, pemimpin ormas atau politisi,  tetapi bila dalam setiap pernyataannya selalu menyebar ujaran kebencian, maka mereka bukanlah termasuk dalam golongan umat muslim cerdas berkualitas. Umat muslim Indonesia adalah manusia yang cinta damai. Kecerdasan dan kualitas umat muslim Indonesia wajib diwujudkan melalui pemikiran-pemikiran yang bersifat komprehensif dan universal.

Islam menjadi rahmat bagi alam semesta dan semua makhluk hidup dijagat raya. Allah SWT berfirman, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS. Al Anbiya 21:107).

Umat muslim wajib menyadari bahwa hidup adalah amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT. Umat muslim harus menanamkan pemikiran yang jernih, jujur dan bersih. Islam telah menempatkan orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan pada derajat yang lebih tinggi, sebagaimana firman Allah SWT, “...Niscaya Allah akan meninggikan orang -orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat...”(QS. Al Mujadilah 58:11).

Sudah selayaknya umat muslim Indonesia berani menyentuh realitas kehidupan sosial. Saling toleransi antarsesama umat beragama akan menjadikan umat muslim bukan hanya berkualitas, tetapi juga menunjukkan derajat hidupnya yang mulia di alam raya.

Terlalu banyak manusia-manusia tak bertanggung jawab di Indonesia yang mengklaim dirinya sebagai tokoh agama, pemimpin ormas atau politis, tetapi sikap dan perilakunya tidak mencerminkan gaya hidup islami. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” (QS Al Hujurat 49:6).

Selamat berbuka puasa bro...[ Wawan Kuswandi ]

LIHAT JUGA:

www.Facebook.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

Indocomm.Blogspot.Com

@INDONESIAComment

INDONESIACommentofficial

ICTV Televisi Inspirasi Indonesia

THE WAWAN KUSWANDI INSTITUTE

#INDONESIAComment

Deenwawan.Photogallery.Com

Foto: Ist

Wednesday, July 8, 2020

Nikmat Berkah Diantara Bulan Rajab dan Ramadhan (puasa hari ke-14)

Sebelum memasuki bulan ramadhan, umat muslim melaksanakan ibadah puasa sunnah di bulan Rajab. Kedua bulan ini mengandung nikmat berkah dari Allah SWT.

Dalam sebuah riwayat, ada hadist yang menyebutkan bahwa bulan Rajab memiliki keistimewaan yang derajatnya hampir sama dengan bulan Ramadhan. Berpuasa di bulan Rajab, memiliki keutamaan khusus bagi umat muslim yang menjalankannya.

Riwayat al-Thabarani dari Sa’id bin Rasyid mengatakan, “Barangsiapa berpuasa sehari di bulan Rajab, maka ia seperti berpuasa setahun, bila berpuasa 7 hari, maka ditutuplah pintu-pintu neraka jahanam dan bila puasa 8 hari dibukakan untuknya 8 pintu surga, bila puasa 10 hari, Allah akan mengabulkan semua permintaannya.”

BACA JUGA: Amien Versus Luhut: Tontonan ?Politik Opera Sabun?

Pada malam Mi’raj, ketika Rasullullah SAW melihat sungai yang airnya lebih manis dari madu dan baunya lebih harum dari minyak wangi, Rasul langsung bertanya kepada malaikat Jibril AS, “Wahai Jibril untuk siapakah sungai ini?” Jibril menjawab, “Ya Muhammad sungai ini adalah untuk orang yang membaca shalawat untuk engkau di bulan Rajab”.

BACA JUGA: Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1940

Bulan Rajab merupakan salah satu mukjizat dari Allah Ta?Ala, sejak langit dan bumi pertama kali diciptakanNya. Kedatangan bulan Rajab merupakan pintu pembuka menuju bulan Ramadhan. Di bulan Rajab, umat muslim wajib bersiap-siap untuk menyucikan dirinya dengan melakukan shaum di bulan Ramadhan.

Walaupun tidak ada ritual khusus di bulan Rajab, namun bulan Rajab sangat istimewa karena pada saat itulah terjadi peristiwa huge dalam sejarah umat Islam yang mengimani Allah SWT dengan segala petunjuknya dalam Al Qur?An. Bahkan, ada sebagian ulama mengatakan bahwa peristiwa Isra? Dan Mi?Raj terjadi tanggal 27 Rajab. Benarkah? Wallahu a?Lam. Peristiwa Isra? Mi?Rad menjadi tonggak awal bagi umat muslim untuk melaksanakan kewajiban shalat lima waktu. Dalam terminologi Islam, bulan Rajab juga merupakan salah satu bulan yang sangat dimuliakan Allah SWT.

BACA JUGA: Sir William Henry Perkin Dan Eksklusivitas Warna Ungu

Mungkin masih ada sebagian umat muslim yang belum mengetahui keistimewaan lain yang terkandung dalam bulan Rajab. Dalam sejarah Islam, bulan Rajab menjadi awal kebangkitan dan kemenangan Islam ketika berperang dengan pasukan Romawi yang dikenal kuat dan tangguh pada masa itu. Pada bulan Rajab, Tahun 9 H, Rasulullah SAW bersama 30 ribu pasukan muslimin meninggalkan Madinah dan pergi menuju Tabuk di wilayah Syam (sekarang Suriah) untuk berperang dengan pasukan Romawi. Pasukan Rasul SAW mampu bertahan menghadapi cuaca panas, saat melalui gurun pasir sepanjang ratusan kilometer.

BACA JUGA: BUKU 'Secangkir Opini Jakarta dan Ahok' TELAH TERBIT, MILIKI SEGERA!

Ketika mengetahui pasukan muslim dipimpin langsung Rasulullah SAW, pasukan Romawi mulai takut. Kemudian, pasukan Romawi mundur dan bertengger di bentengnya. Namun, pasukan Rasul SAW terus merangsek dengan gigih dan berani. Akhirnya pasukan Romawi kocar-kacir dan takluk. Tabuk berhasil dikuasai pasukan muslim. Kemenangan tragis dan dramatis dari pasukan Rasullullah SAW ini, langsung memperkokoh kekuatan Islam di seluruh Jazirah Arab.

Salam sruput teh tubruk bro…[ Wawan Kuswandi ]

LIHAT JUGA:

www.Facebook.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

Indocomm.Blogspot.Com

#INDONESIAComment

@INDONESIAComment

@INDONESIACommentofficial

ICTV Televisi Inspirasi Indonesia

THE WAWAN KUSWANDI INSTITUTE

Deenwawan.Photogallery.Com

Foto: ist

Tuesday, July 7, 2020

Mukjizat Berbuat Baik Saat Berpuasa Ramadhan (puasa hari ke-17)

Lantas bagaimana bentuk kongkret perbuatan baik? Berbuat baik memiliki makna dan dimensi yang sangat luas. Berbuat baik, bukan hanya dilakukan antarsesama manusia sebagai makhluk ciptaanNya yang berakal dan berbudi.

Berbuat baik saat berpuasa ramadhan juga wajib dilakukan kepada semua benda dan makhluk ciptaan Allah SWT yang ada di alam raya, seperti hewan, tumbuhan dan benda-benda lainnya, baik yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa. Allah SWT pasti mempunyai maksud dan tujuan tertentu ketika Dia menciptakan sesuatu di muka bumi. Allah SWT Maha Penyayang terhadap semua ciptaanNya yang ada di jagat raya.

Perbuatan baik ketika sedang berpuasa ramadhan dapat diwujudkan dalam bentuk perkataan lisan dan tulisan yang santun dan beradab, berperilaku dan bersikap sopan dan bermoral, saling sayang menyayangi, saling tolong menolong, menghormati hak orang lain, menjaga hubungan silaturrahim dengan antarsesama manusia tanpa dibatasi oleh Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA).

Dengan tetap menjaga perbuatan baik dalam bentuk kasih sayang antarsesama, maka keimanan kita terhadap Allah SWT di bulan ramadhan akan semakin kokoh. Dalam proses hubungan antarmanusia ini, Allah SWT berfirman dalam surat Ali Imran ayat 14, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)".

Dalam soal kasih sayang, Allah SWT juga berfirman dalam surat Maryam ayat 96, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang”.

Rasa kasih sayang ini wajib kita lakukan bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada semua makhluk dan seluruh benda ciptaanNya yang ada di jagat raya, tanpa pilih kasih. Allah SWT berfirman dalam surat Luqman ayat 10, “Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembangbiakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik".

Lalu, bagaimana caranya bersikap terhadap orang yang membenci, syirik, iri atau dengki terhadap Anda yang sedang berpuasa? Jawabannya sangat sederhana, tetapi mungkin sulit untuk dilakukan yaitu balaslah kebencian orang lain kepada Anda dengan tetap memberikan kasih sayang yang tulus dan ikhlas, tidak menyimpan dendam, tetap menjaga silaturrahim dan selalu mendoakan orang yang membenci Anda agar dia diberi petunjuk dan jalan yang lurus olehNya.

Percayalah sebuah perbuatan baik sekecil apapun di muka bumi niscaya akan mendapatkan kebaikan dari Allah SWT, baik di dunia maupun Akherat. Ketentraman, kenyamanan dan ketenangan hidup mungkin merupakan bagian terkecil dari mukjizat berbuat baik. Masih banyak mukjizat lainnya yang lebih sempurna akan diberikan oleh Allah SWT kepada orang yang berbuat baik. Namun, semua mukjizat itu menjadi rahasia Allah SWT.

Sedikitnya, ada tiga perbuatan baik yang bisa Anda lakukan saat berpuasa yaitu pertama berkata baik, kedua berbuat dan bersikap baik, ketiga berdoa untuk sesama. Nah Mulai hari ini dan seterusnya, mari kita sama-sama selalu menebar dan menanamkan kebaikan dan kasih sayang kepada semua makhluk dan benda-benda yang ada di alam raya. Wassalam..

Salam berbuka puasa bro... [Wawan Kuswandi]

LIHAT JUGA:

www.Fb.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

Indocomm.Blogspot.Com

@indonesiacommentofficial

@INDONESIAComment

#INDONESIAComment

Deenwawan.Photogallery.Com

ICTV Televisi Inspirasi Indonesia

THE WAWAN KUSWANDI INSTITUTE

Foto: ist

Monday, July 6, 2020

Menjadi Muslim yang Menyejukan Untuk Alam Semesta? (puasa hari ke-16)

Kaum muslim wajib menjadi subjek yang menyejukan bagi seluruh makhluk hidup ciptaanNya yang ada di alam semesta. Bagaimanakah eksistensi kaum muslim di Indonesia, apakah masih berwujud fisik agamawi semata atau bersifat moral agamawi?

Dalam tulisan pendek ini, saya mencoba memberi jawaban sederhana terhadap pertanyaan di atas, agar pembaca bisa memahaminya sekaligus mencerahkan sisi lahir dan bathin saya dan juga Anda.

BACA JUGA:Touring Chopper Di Sukabumi Dan Komunikasi Politik Jokowi

Sesungguhnya, seorang muslim yang alim atau taat, tidak mutlak ditentukan oleh khatam Al Qur?An puluhan kali, hafal surat-surat pendek Juz?Amma, sering menunaikan ibadah haji, berpakaian gamis atau jilbab, sering berceramah di majelis taklim, rajin bersedekah, melakukan puasa sunnah dan wajib serta menjalankan sholat lima waktu. Lantas apa ukurannya?

BACA JUGA: Indonesia Bubar 2030, Ekspresi Panik Prabowo?

Semua aktivitas muslim yang telah saya disebutkan di atas, hanyalah sebatas fisik agamawi, bukan moral agamawi. Kenapa demikian? Ya, Karena mungkin saja mereka memahami dan menjalankan ajaran Islam hanya sebatas fisik atau raga semata. Faktanya, masih ada sebagian besar kaum muslim yang sudah melakukan aktivitas fisik agamawi seperti di atas, tetapi kelakuannya masih tidak manusiawi dan islami, ketika mereka berhubungan dengan sesama makhluk hidup ciptaan Tuhan (manusia, hewan, tumbuhan dan seluruh benda) yang bertebaran di alam raya.

BACA JUGA: Amien Versus Luhut: Tontonan ?Politik Opera Sabun?

Islam itu ajaran perbuatan baik, menyejukan dan saling menyayangi antasesama makhluk hidup. Islam itu bukan hanya sekadar ibadah person, tetapi juga ibadah sosial. Ajaran Islam sangat terkait dengan perbuatan sosial tanpa pilih kasih. Islam itu bukan hanya sekadar berwujud gelar ulama, habib, ustadz, dai dan kyai saja.

BACA JUGA: PK Ahok Ditolak MA: Antara Keadilan Dan Ketidakadilan Hukum

Mungkin akan menjadi hal yang sia-sia saja, bila seorang muslim yang sudah meyakini rukun Islam dan rukun Iman, tetapi perbuatan dan perkataannya dalam kehidupan sehari-hari selalu menebar kebencian dan permusuhan. Bahkan merasa diri sudah paling benar diantara banyaknya perbedaan.

BACA JUGA: Mau Tahu Sembilan Indikator yang Mendukung Ahok? Baca Ebook ini

Sudah seharusnya sikap dan perilaku kaum muslim bukan hanya mengutamakan fisik agamawi tetapi juga menerapkan nilai-nilai moral agamawi. Sayangnya di Indonesia, sebagian besar penganut Islam dan tokoh agamanya, masih ada saja yang merasa dirinya paling Islam dibanding yang lain, ketika mereka sudah melaksanakan kegiatan fisik agamawi. Padahal, kenyataannya, mungkin saja merekalah yang justru sering mencermarkan ajaran agama. Mana yang Anda pilih, menjadi muslim fisik agamawi atau moral agamawi? Jawabannya terserah Anda.

Salam berbuka puasa bro...[ Wawan Kuswandi ]

BACA JUGA: BUKU 'Secangkir Opini Jakarta dan Ahok' TELAH TERBIT, MILIKI SEGERA!

LIHAT JUGA:

www.Fb.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

Indocomm.Blogspot.Com

@INDONESIAComment

@indonesiacommentofficial

ICTV Televisi Inspirasi Indonesia

THE WAWAN KUSWANDI INSTITUTE

#INDONESIAComment

Deenwawan.Photogallery.Com

Foto: ist

Saturday, July 4, 2020

Nikmatnya Berserah Diri [puasa hari ke-8]

Perbedaan kedua kalimat diatas sangat jelas terlihat, saat umat muslim menjalankan puasa Ramadhan. Kalimat ?Pasrah diri? Mengandung makna pasif, malas, rendah diri dan putus asa. Dalam ajaran Islam, umat muslim dianjurkan untuk menghindari ?Pasrah diri? Ketika menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan sosialnya.

Sedangkan kalimat ?Berserah diri? Memiliki makna aktif serta rendah hati. Perjalanan umat muslim saat memulai puasa hingga saat berbuka merupakan wujud berserah diri manusia kepada Allah SWT dengan tulus dan ikhlas.

Umat muslim yang berserah diri kepada Allah SWT akan terhindar dari rasa sombong,contohnya ketika dia sedang berpuasa dengan tidak menyebut-nyebut puasanya akan mendapat ganjaran pahala, masuk surga atau dirinya merasa lebih bersih dan suci seperti bayi baru lahir.

Pahala dan surga itu hak mutlak Allah SWT. Salah satu nikmat Allah SWT yang sering dilalaikan umat muslim ialah nikmat berserah diri kepadaNya. Jadi, semua proses puasa Ramadhan yang dilakoni umat muslim dari awal hingga akhir, hasilnya merupakan hak Tuhan. Inti puasa Ramadhan ialah berserah diri.

Sebagai penutup tulisan pendek ini, saya ingin mengutip firman Allah SWT dalam surat Surat An-Nahl, Ayat 81, “Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri kepada-Nya” Wassalam...

Selamat berbuka puasa brooo…[ Wawan Kuswandi ]

LIHAT JUGA:

www.Facebook.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

@wawan_kuswandi

Indocomm.Blogspot.Com

@INDONESIAComment

Deenwawan.Photogallery.Com

foto: istimewa

Friday, July 3, 2020

Mukjizat Kesempurnaan Bacaan dan Gerakan Sholat (puasa hari ke-18)

Mengapa? Karena bulan Ramadhan merupakan bulan anugerah dan mukjizat dari Allah SWT yang diberikan secara langsung kepada umat muslim yang beriman.

Jadi, tak mengherankan ketika bulan Ramadhan, umat muslim berduyun-duyun memenuhi masjid maupun mushola untuk melaksanakan sholat wajib tepat waktu maupun sholat sunnah di pagi, siang, sore dan malam hari. Namun, ada satu pertanyaan kecil yang muncul di pikiran saya, apakah sholat yang saya dan Anda lakukan sudah benar sesuai tuntutan Rasulullah SAW?

Dari pertanyaan ini saya dan Anda harus berani mengevaluasi, apakah gerakan dan bacaan sholat kita sudah tepat dan benar sesuai ajaran Nabi Muhammad SAW?

Intisari Sholat adalah sebagai medium komunikasi pribadi antara seorang muslim dengan Allah SWT, baik itu sholat yang didirikan secara berjamaah maupun sendiri. Lantas, bagaimana gerakan sholat yang baik dan benar? Saya tidak akan mengupas tatacara gerakan dan bacaan sholat yang baik dan benar. Anda bisa menanyakan hal itu kepada guru ngaji Anda atau searching di Google.

Dalam tulisan sedehana ini saya hanya ingin menyampaikan nilai-nilai filosofis sholat sebatas pengetahuan yang saya miliki. Pada dasarnya, sholat itu dilakukan karena niat suci, keikhlasan dan rasa syukur seorang muslim untuk berkomunikasi dengan Allah SWT. Untuk itulah, bacaan ayat-ayat Al Qur?An yang dilantunkan, sebaik mungkin dilakukan dengan baik dan benar agar proses komunikasi sakral dengan Allah SWT berlangsung efektif dan komunikatif. Begitu juga dengan gerakan sholat, tentu saja harus sesuai dengan tatacara gerakan sholat yang benar berdasarkan petunjuk Rasulullah SAW.

Lakukanlah sholat dengan tenang, khusyuk dan penuh kerendahan hati sebagai wujud penyerahan diri kita kepada Allah SWT. Namun, faktanya, saat ini masih ada sebagian umat muslim, terkadang gerakan dan bacaan sholatnya terburu-buru. Ini terjadi karena sholat hanya dimaknai sebatas kewajiban belaka.

Kalau umat muslim melaksanakan sholat hanya karena sebatas kewajiban semata, maka yang terjadi adalah sholat cuma menjadi ritual biasa tanpa makna yang tidak menyentuh hati, pikiran, moral dan intellectual seorang muslim. Akhirnya, mungkin saja sholat saya dan Anda menjadi jauh dari nilai kesempurnaan ibadah kepada Allah SWT. Mudah-mudahan gerakan dan bacaan sholat saya dan Anda semakin menjadi sempurna ?Aamiin..

Selamat berbuka puasa bro...[ Wawan Kuswandi ]

LIHAT JUGA:

Indocomm.Blogspot.Co.Identification

www.Fb.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

@wawan_kuswandi

#INDONESIAComment

@INDONESIACommentofficial

@indonesiacomment

ICTV Televisi Inspirasi Indonesia

THE WAWAN KUSWANDI INSTITUTE

Deenwawan.Photogallery.Com

Foto: Ist

Thursday, July 2, 2020

Mukjizat Qiyaamul Lail (puasa hari ke-19)

Mengapa bulan Ramadhan begitu mulia? Karena bulan Ramadhan yang datang satu kali dalam satu tahun, menjadi momentum penting bagi umat muslim untuk menggapai kemuliaan Allah SWT. Cara terbaik untuk menggapai kemuliaan itu ialah dengan melaksanakan sholat malam secara ikhlas dan penuh rasa syukur. Rasulullah SAW bersabda, “Kemuliaan orang beriman adalah sholat malam.”

Sholat malam hukumnya sunnah mu?Akkadah (ditekankan). Kaum muslim yang rutin melakukan sholat malam sepanjang ramadhan layak menyandang gelar Shiddiqin (orang-orang yang jujur dan berlaku benar) dan syuhada (orang-orang yang ditetapkan sebagai syahid atau pembela Islam).

Sholat malam yang paling banyak dilakukan umat Islam saat ramadhan diantaranya ialah sholat Tarawih, sholat Witir, sholat Tahajud, sholat Taubat, sholat Hajat dan sholat Tasbih. Sholat-sholat sunnah itu tidak harus dilakukan di masjid, di rumahpun dapat dikerjakan. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya sholat yang paling utama adalah sholat yang dilakukan seseorang di rumahnya, kecuali untuk sholat wajib” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam sebuah hadist lain disebutkan, “Sungguh, Ramadhan adalah bulan yang diwajibkan Allah puasanya dan kusunatkan sholat malamnya. Maka, barangsiapa menjalankan puasa dan sholat malam pada bulan itu karena iman dan mengharap pahala, niscaya bebas dari dosa-dosa seperti saat ketika dilahirkan ibunya.” (HR. An-Nasa’i).

Ada juga hadist yang mengatakan, “Barangsiapa yang bangun di waktu malam kemudian membangunkan istrinya sehingga keduanya melakukan sholat dua rokaat. Maka, keduanya tercatat sebagai seorang laki dan wanita yang banyak berdzikir kepada Allah” (H.R Abu Dawud, dishahihkan Ibnu Hibban, al-Hakim, dan al-Albany).

Untuk orang-orang yang bertaqwa, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di dalam taman-taman (Surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu, di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian” [QS. Adz-Dzaariyaat 15-19]. Wassalam...

Selamat berbuka puasa bro...[ Wawan Kuswandi ]

LIHAT JUGA:

Indocomm.Blogspot.Co.Id

www.Facebook.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

@wawan_kuswandi

#INDONESIAComment

@INDONESIACommentofficial

@INDONESIAComment

ICTV Televisi Inspirasi Indonesia

THE WAWAN KUSWANDI INSTITUTE

Deenwawan.Photogallery.Com

Foto: Ist

Wednesday, July 1, 2020

Mukjizat Malam Lailatul Qadar [puasa hari ke-22]

Allah Ta ‘ala berfirman, “Sesunguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (QS Al Qadr:1-5-97).

Sebagian besar ulama Indonesia memiliki pendapat berbeda tentang definisi ?Malam kemuliaan? Lailatul Qadar. Namun, mereka sepakat bahwa hal itu berkaitan erat dengan adanya perubahan atau pengaturan ketetapan Allah Ta?Ala tentang takdir yang menyangkut hidup dan mati serta pelimpahan rezeki yang akan diterima manusia.

Dalam pandangan saya, semua umat muslim pasti akan mendapatkan malam Lailatul Qadar, bila sejak awal puasa Ramadhan hingga Idul Fitri tak pernah meninggalkan ibadah wajib dan sunah. Namun, hanya orang-orang yang bersungguh-sungguh beriman dan bertaqwalah (dalam ibadahnya) yang akan mendapatkan kemuliaan Lailatul Qadar. Bagaimana bentuk kemuliaan itu? Hanya Allah SWT yang tahu.

Ibnu Hajar Al Asqolani Rahimahullah mengatakan, ada sekitar empat puluh pendapat berbeda dari para ulama tentang terjadinya Lailatul Qadar. Ada yang mengatakan tanggal ganjil. Ada juga yang berpendapat tanggal genap. Itu semua tergantung dari umat muslim ketika mengawali puasa Ramadhannya. Banyaknya perbedaan inilah yang pada akhirnya membuat sebagian umat muslim melakukan i’tikaf di masjid. Rasulullah SAW bersabda, “Carilah Lailatul Qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan” (HR Bukhari no. 2017).

Sebagian besar ulama juga berbeda pendapat tentang tanda-tanda Lailatul Qadar. Misalnya, ada yang berpendapat bahwa Lailatul Qadar ditandai dengan suasana pagi yang tenang dan damai, cahaya matahari yang cerah, tetapi tidak panas serta malam yang terang benderang. Bahkan, ada sebagian ulama menyebutkan, ciri-ciri orang yang mendapatkan Lailatul Qadar diantaranya ialah dia bisa melihat seluruh benda dan makhluk di muka bumi bersujud kepada Allah SWT. Tapi, ada juga yang mengatakan bahwa orang yang mendapatkan Lailatul Qadar tidak diisyaratkan melihat tanda apapun. Sekali lagi, hanya Allah SWT yang Maha Tahu.

Bagi saya, hal utama yang paling penting ialah umat muslim dalam melaksanakan ibadahnya bukan hanya sekadar mengejar atau menunggu kapan datangnya malam Lailatul Qadar. Mungkin akan lebih baik, bila saya dan Anda terus beribadah secara sungguh-sungguh dengan kejernihan hati, ketulusan jiwa dan pikiran serta keikhlasan untuk memperkokoh iman dan taqwa kita kepada Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari. Apakah saya dan Anda akan mendapatkan kemuliaan malam Lailatul Qadar? Sepenuhnya kita berserah kepadaNya. Kemuliaan Lailatul Qadar adalah hak Allah SWT. Dialah yang akan menetapkan siapa saja orang-orang beriman yang berhak mendapatkan kemuliaan Lailatul Qadar. Wassalam....

Selamat berbuka puasa bro...[ Wawan Kuswandi ]

LIHAT JUGA:

Indocomm.Blogspot.Co.Identity

www.Fb.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

@wawan_kuswandi

#INDONESIAComment

@wawankuswandi

@indonesiacommentofficial

ICTV Televisi Inspirasi Indonesia

THE WAWAN KUSWANDI INSTITUTE

Deenwawan.Photogallery.Com

Foto: Ist

Perspektif Kesucian Hari Raya Idul Fitri ( 1 Syawal )

Hari Raya Idul Fitri (1 Syawal ) merupakan rahmat Allah SWT yang diberikan kepada umat Rasulullah SAW.

Allah Ta’ala berfirman, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS Al Maidah:3).

Anas RA berkata, ketika Rasulullah SAW datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa Jahiliyah, maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian yaitu, hari raya Idul Fitri dan Idul Adha (hari Nahr).” (HR An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3:178, sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

Adakah ucapan khusus saat Idul Fitri? Setiap umat muslim boleh mengucapkan apa saja, selama mempunyai niat, tujuan dan kalimat yang baik. Kalimat ‘Taqobbalallahu minna wa minkum’ (semoga Allah SWT menerima amalku dan amal kalian) tidak khusus diucapkan saat lebaran. Tidak ada satu dalil pun dalam Al Qur’an tentang ucapan itu. Kalimat ‘Mohon Maaf Lahir dan Batin’ juga belum tepat diucapkan karena Idul Fitri bukanlah waktu khusus untuk saling maaf-memaafkan.

Hal yang sama juga terjadi pada ucapan ‘Minal Aidin wal Faizin’ (Kita kembali dan meraih kemenangan). Pertanyaannya ialah mau kembali ke mana dan kemenangan apa? Para alim ulama di seluruh dunia mempunyai banyak pendapat soal pengertian Idul fitri. Idul Fitri berasal dari kata ‘Id’ berarti kembali sedangkan kata ‘Fitri’ berarti Pencipta atau Ciptaan. Dalam bahasa Arab, akar kata Fitri adalah Al Fathir yang bisa berubah menjadi Al Fithrah, Al Fathrah atau Al Futhura.

Allah SWT berfirman, “…Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendirian sebagaimana kami ciptakan kamu pada mulanya (awal penciptaan)…”(QS Al An’am 6:94). Dalam ayat diatas Allah Ta’ala menegaskan, ketika manusia wafat, ruhnya akan kembali kepadaNya. Proses kembalinya seorang manusia kepadaNya dikiaskan dalam bahasa simbol sebagaimana awal mula kejadian manusia (bayi dalam kandungan).

Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala, “Kamu akan kembali menemuiNya, sebagaimana Ia menciptakan pada mulanya (bayi dalam kandungan).” (QS Al A’raaf 7:29). Maksud dari ayat ini ialah bahwa setiap manusia yang ingin menemuiNya harus memiliki sifat sifat seperti bayi. Jadi, semua yang ada dalam diri kita (jasmani dan rohani) adalah hak Allah Azza Wa Jalla. Kembalinya seorang manusia kepada Allah sebagai Al Fathir inilah yang seringkali disebut dengan Idul Fitri.

Sedangkan, menurut KH Ali Mustafa Ya?Qub, ?Id? Dalam bahasa Arab berarti kembali atau kejadian yang berulang-ulang. Sedangkan ?Fitri? Artinya makan. Jadi bisa dikatakan, Idul Fitri adalah hari makan siang tahunannya umat Islam. Terlepas dari semua makna di atas, marilah kita rayakan Idul fitri dengan penuh rasa syukur kepadaNya. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H, Semoga Allah SWT menerima semua amal ibadah kita, Aamiin?..Wassalam.

Selamat Lebaran bro... [ Wawan Kuswandi ]

LIHAT JUGA:

Indocomm.Blogspot.Co.Id

www.Fb.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

@wawan_kuswandi

#INDONESIAComment

@wawankuswandi

@indonesiacommentofficial

ICTV Televisi Inspirasi Indonesia

THE WAWAN KUSWANDI INSTITUTE

Deenwawan.Photogallery.Com

Foto: Ist

Tuesday, June 30, 2020

Zakat Fitrah Wujud Mensyukuri Nikmat Allah SWT [puasa hari ke-27]

Zakat fitrah menjadi penutup ?Manis? Dari rangkaian ibadah Ramadhan untuk menuju kemenangan hari raya Idul fitri. Zakat fitrah ditunaikan kaum muslim yang mempunyai kelebihan nafkah dan rezeki.

Dari Ibnu Abbas RA, dia mengatakan, “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata kotor serta sebagai pemberian makanan bagi orang-orang miskin. Maka barangsiapa menunaikannya sebelum shalat (Ied), maka itu zakat yang diterima. Dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat Ied, maka itu hanya sekadar sedekah dari sedekah-sedekah yang ada” (Hasan, HR Abu Dawud Kita buz Zakat Bab Zakatul Fithr, 17 no. 1609, Ibnu Majah, 2/395 Kita buz Zakat Bab Shadaqah Fithri, 21 no. 1827, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud).

Kewajiban zakat fitrah berlaku bagi kaum muslim, baik untuk orang dewasa, anak-anak, laki-laki ataupun perempuan dan orang-orang merdeka maupun budak. Dalam pelaksanaannya, zakat fitrah harus mengikuti perintah Allah SWT. Sebagian ulama mengatakan bahwa pelaksanaan kewajiban zakat fitrah setelah selesainya bulan Ramadhan. Namun, Rasulullah SAW menerangkan bahwa waktu pengeluaran zakat fitrah itu harus sebelum sholat Ied. Atas dasar itulah, sebaiknya zakat fitrah diserahkan ke tangan fakir sebelum Sholat Ied.

Adapun diwajibkannya zakat fitrah ini karena tiga hal yaitu, pembayar zakat adalah seorang muslim (Islam), dilakukan saat terbenam matahari dan akhir bulan Ramadhan. Efek sosiologis zakat fitrah ialah adanya rasa kebersamaan dan kepedulian antarsesama umat manusia.

Zakat fitrah melahirkan bentuk kepedulian sosial yang bernilai ibadah bagi seseorang. Diriwayatkan dari Hisyam bin urwah dari ayahnya Abu Hurairah RA dari Nabi SAW bersabda, ”Tangan di atas (memberi dan menolong) lebih baik daripada tangan dibawah (meminta-minta), mulailah orang yang menjadi tanggunganmu (keluarga dll) dan sebaik-baik shadaqah adalah yang dikeluarkan dari kelebihan kekayaan (yang diperlukan oleh keluarga)” (HR Al Bukhary dan Ahmad).

Hikmah disyari?Atkannya zakat fitrah ialah rasa syukur umat muslim kepada Allah SWT karena mereka masih diberi kesempatan untuk merasakan nikmatnya berbagi antarsesama dalam kesucian ibadah Ramadhan. Wassalam...

Selamat berbuka puasa bro... [ Wawan Kuswandi ]

LIHAT JUGA:

Indocomm.Blogspot.Co.Id

www.Facebook.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

@wawan_kuswandi

#INDONESIAComment

@wawankuswandi

@indonesiacommentofficial

ICTV Televisi Inspirasi Indonesia

THE WAWAN KUSWANDI INSTITUTE

Deenwawan.Photogallery.Com

Foto: Ist

Nikmat Malam Takbiran, Momentum Puncak Berdzikir [puasa hari ke-29]

Malam takbiran merupakan pertanda bahwa seluruh rangkaian ibadah puasa Ramadhan telah berakhir. Selanjutnya, umat muslim bersiap merayakan hari raya Idul Fitri. Di malam takbiran terdengar kumandang lafadz dzikir kalimat takbir, tasbih, tahlil dan tahmid mengagungkan nama Allah SWT yang dilantunkan secara berulang-ulang.

Allah Ta’ala berfirman, “…dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS Al Baqarah:185).

Tradisi merayakan malam takbiran di Indonesia dilakukan dengan berbagai macam cara mulai dari takbir keliling, takbir berjamaah di masjid dan mushola sampai dengan takbir di rumah bersama keluarga. Gema takbir juga berkumandang dalam siaran televisi, radio, YouTube dan sejumlah media sosial lainnya dengan model lantunan lafadz dzikir yang bervariasi.

Dalam melantunkan lafadz dzikir (takbir, tasbih, tahlil dan tahmid), terkandung makna mengagungkan kebesaran Allah Azza Wajalla. Bertakbir adalah bentuk rasa syukur umat muslim kepadaNya atas nikmat ibadah Ramadhan.

Allah SWT berfirman, “…hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (puasa) dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjukNya yang diberikan kepadamu” (QS Al Baqarah:185). Ayat ini menjelaskan bahwa setelah selesai menjalankan ibadah Ramadhan, maka dianjurkan untuk mengagungkan Allah SWT dengan bertakbir.

Rasulullah SAW bersabda, “Setiap kalimat tasbih adalah sedekah, takbir adalah sedekah, tahmid adalah sedekah dan tahlil adalah sedekah” (HR Muslim). Sesungguhnya puncak ibadah Ramadhan adalah mengagungkan Allah Ta’ala dengan lantunan dzikir berulang-ulang agar umat muslim semakin taqwa kepadaNya. Wassalam…

Selamat berbuka puasa bro... [ Wawan Kuswandi ]

LIHAT JUGA:

Indocomm.Blogspot.Co.Id

www.Facebook.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

@wawan_kuswandi

#INDONESIAComment

@wawankuswandi

@indonesiacommentofficial

ICTV Televisi Inspirasi Indonesia

THE WAWAN KUSWANDI INSTITUTE

Deenwawan.Photogallery.Com

Foto: Ist

Sunday, June 21, 2020

Rahasia Allah SWT di Malam Lailatul Qadar (puasa hari ke-21)

Malam lailatul qadar adalah malam yang sangat penting dan ditunggu-tunggu umat muslim di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Para tokoh agama di berbagai penjuru dunia, masih berbeda pendapat tentang makna dan tanda-tanda malam lailatul qadar. Namun, umumnya mereka berpendapat sama bahwa malam lailatul qadar adalah malam yang paling dimuliakan Allah SWT diantara malam-malam lainnya dan itu terus menjadi rahasiaNya.

Malam Lailatul qadar digambarkan sebagai malam yang lebih mulia dari seribu bulan serta merupakan malam turunnya Al Qur?An. Dengan merujuk dan mengartikan kata qadar sebagai kemuliaan, maka malam lailatul qadar adalah malam yang mulia karena di malam itulah Allah SWT menurunkan Al Qur?An.

Berdasarkan pengertian diatas itulah, maka seluruh umat muslim pada saat ramadhan meningkatkan ibadahnya, terutama saat malam hari dengan harapan ibadah mereka mendapatkan kemuliaan dari Allah SWT.

Malam lailatul qadar selamanya akan menjadi rahasia Allah SWT. Sebagai umat muslim, sudah sewajibnya kita berserah diri kepadaNya dalam melaksanakan ibadah dengan tulus dan ikhlas, terlebih lagi saat bulan ramadhan.

Menurut keterangan Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam kitab Fathul-Bari, beberapa ulama berpendapat bahwa malam lailatul qadar sebenarnya hanyalah satu kali saja yaitu ketika Al Qur?An mulai pertama turun. Adapun malam lailatul qadar yang selalu diperingati saat ramadhan bertujuan agar umat muslim terus memperbanyak ibadah pada setiap malam ramadhan.

Setiap malam ramadhan, umat muslim dianjurkan untuk memperbanyak rasa syukur kepada Allah SWT karena bertetapan dengan malam itulah Al Qur?An diturunkan Allah SWT. Wassalam ...

Selamat berbuka puasa bro ... [ Wawan Kuswandi ]

LIHAT JUGA:

Indocomm.Blogspot.Co.Id

www.Fb.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

@wawan_kuswandi

#INDONESIAComment

@wawankuswandi

@indonesiacommentofficial

ICTV Televisi Inspirasi Indonesia

THE WAWAN KUSWANDI INSTITUTE

Deenwawan.Photogallery.Com

Foto: Ist

Wednesday, June 10, 2020

Hentikan Politisasi Agama, Rakyat Muak !

Saya miris ketika melihat segerombolan oknum pemimpin dan anggota ormas yang mengaku berbasis islam meneriakkan kalimat takbir ?Allahu Akbar? Berkali-kali saat melakukan aksi demo seputar isu politik.

Jujur saja, tidak ada hubungan sedikitpun antara politik dengan agama. Saya juga seorang muslim tetapi saya tidak mau menyeret atau mencampuradukan agama dalam ranah politik.

Saya dan mungkin juga rakyat sudah muak melihat sejumlah tokoh agama yang mengklaim dirinya sebagai ulama, tetapi kelakuannya lebih bejad dari iblis. Mereka menganggap dirinya sudah paling benar dan paling islam.

Selama ini, saya tidak pernah mengakui bahwa ormas islam itu mewakili saya sebagai umat muslim maupun umat muslim yang ada di Indonesia. Mereka lebih tepat disebut sebagai sekelompok oknum yang tidak bertanggungjawab yang sengaja ingin merusak kesatuan, persatuan dan toleransi antarumat beragama dengan memanipulasi ajaran agama.

Tak ada yang istimewa dari gerakan ormas radikal yang mengaku bela islam, tetapi dalam kenyataanya justru memperlihatkan cara-cara anarkisme dalam menyampaikan aspirasinya.

Agama bukan politik. Politik juga bukan agama. Jadi, saya sangat tidak percaya kalau ada ormas radikal melakukan aksi demo dengan membawa-bawa agama, padahal isu demonya bukan masalah agama, tetapi kasus politik. Saya berharap umat muslim tidak mudah dibodohi dan percaya oleh ormas radikal yang dalam gerakan aksinya justru memecahbelah bangsa dan menciptakan permusuhan dengan suku, agama, ras atau antar golongan (SARA).

Bagi saya, sebagai umat beragama lebih baik berbagi kebaikan antarsesama makhluk ciptaan Tuhan tanpa ada kepentingan apapun.

Sebelum saya tutup tulisan pendek ini, boleh khan? Saya bertanya, apakah Anda masih percaya dengan gerakan ormas radikal yang selalu memanipulasi ajaran agama untuk kepentingan politik? Jadilah umat muslim yang cerdas. Silahkan Anda pikirkan. Udah dulu ya? Bro, gue mau ngeteh sambil nyicipin pisang rebus anget?Salam

LIHAT JUGA:

Indocomm.Blogspot.Co.Identification

www.Facebook.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

@INDONESIAComment

@wawanku86931157

#INDONESIAComment

Deenwawan.Photogallery.Com

Foto: Istimewa

Tuesday, June 9, 2020

Quovadis Tuhan dan Agama [ Merespon Tulisan Sujiwo Tejo ‘Ketika Agama Kehilangan Tuhan’ ]

Dalam pandangan saya, sesungguhnya agama dan Tuhan tidak saling mengalahkan. Agama juga tidak pernah mengambil hak-hak Tuhan sejak manusia meyakini adanya Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Justru manusialah yang mengubah dirinya menjadi sosok agama dalam versinya sendiri dan merampas hak-hak Tuhan dengan cara-cara kejam. Lantas, siapa sebenarnya manusia yang dengan seenaknya mengubah dirinya menjadi sosok agama dan ‘merampok’ hak-hak Tuhan secara sadis? Dialah tokoh agama yang dirasuki iblis keserakahan, kerakusan, kekayaan, popularitas dan kekuasaan.

Dalam terminologi agama mayoritas di Indonesia, tokoh agama memiliki banyak sebutan seperti ulama, ustadz, kiai dan habib. Menurut saya, sebutan ulama telah mengalami pergeseran makna yang sangat signifikan berdasarkan penilaian dari dua kelompok aliran yang ada dalam satu agama mayoritas di Indonesia.

Tuhan Dipaksa Menyingkir

Kelompok pertama memaknai ulama sebagai ahli agama yang wajib menyuarakan syariah agama tertentu di Indonesia berdasarkan keberadaan agama mayoritas di Indonesia. Umumnya, para ulama dari kelompok pertama ini menyuarakan aspirasi agamanya dengan cara-cara keras dan saklek, tanpa mempedulikan aspek kemanusiaan dan dasar-dasar hukum positif negara. Pokoknya, bagi ulama kelompok ini, agama harus mengalahkan segala aspek kehidupan manusia dan agama menjelma menjadi Tuhan (Tuhan dipaksa menyingkir dalam ajaran agama).

Sedangkan ulama dalam pandangan kelompok kedua ialah seseorang yang memiliki keahlian ilmu agama dan ‘keahlian sosial’ yang kemampuannya berada diatas rata-rata para penganut agama mayoritas. Para ulama di kelompok ini berperan bukan hanya sebagai tokoh agama, tetapi juga menjadi pemimpin sosial dalam memecahkan berbagai persoalan publik dan agama dengan cara-cara bijaksana.

Dalam etimologi bahasa Arab, kata ulama berarti orang yang mengetahui karena memiliki ilmu pengetahuan yang sangat tinggi dan luas. Makna sebenarnya dalam bahasa Arab, ulama adalah ilmuwan atau peneliti. Kemudian arti ulama mengalami perubahan setelah diserap ke dalam Bahasa Indonesia yang maknanya adalah sebagai orang yang ahli dalam ilmu agama, khususnya Islam.

Sedangkan terminologi ulama menurut Wikipedia adalah seorang pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk mengayomi, membina dan membimbing umat, baik dalam masalah-masalah agama maupun masalah sehari hari, baik dari sisi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan.

Melihat fakta dua definisi ulama di atas, bila dikaitkan dengan perbedaan tafsir makna ulama oleh dua kelompok aliran penganut agama dalam satu agama mayoritas di Indonesia, maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar penganut agama mayoritas di Indonesia, belum atau bahkan tidak memahami makna kata ulama dengan baik dan benar dalam kehidupan sosialnya maupun dalam kehidupan keagamaannya.

Sesungguhnya, makna ulama bukan hanya sekadar memiliki keahlian agama, tetapi juga harus mempunyai pengetahuan umum yang tujuannya untuk menjawab semua problem sosial. Kelompok pertama yang memaknai ulama semata-mata sebagai ahli agama saja, sangat tidak tepat dan terlalu sempit sehingga ulama menjelma menjadi sosok agama yang kaku dan bersifat doktrin. Sedangkan kelompok kedua memaknai ulama bukan hanya sebagai orang yang ahli agama, tetapi juga mampu menunjukkan sikap dan perilaku baik dalam tataran norma umum, menyejukkan dan bijaksana dalam menyelesaikan berbagai persoalan sosial serta mampu menjaga dan menerima adanya perbedaan apapun dalam kehidupan bermasyarakat.

Kesimpulannya, ulama adalah seseorang yang memahami ilmu agama dan ilmu-ilmu sosial kemasyarakatan yang berfungsi untuk menjaga kerukunan antarsesama makhluk ciptaan Tuhan yang beraneka ragam. Jadi ulama itu bukan agama, apalagi Tuhan.

Agama Sebagai Doktrin

Di sisi lain, menurut saya sekarang ini sebagian kecil penganut agama mayoritas di Indonesia sedang mengalami krisis iman akut. Hal itu terjadi karena hati nurani dan nalar mereka hanya menjadikan agama sebagai doktrin. Tuhan dan manusia tidak lagi punya arti. Dalam pandangan mereka agamalah yang penuh arti. Buktinya, banyak penganut agama mayoritas menjadikan agama sebagai ‘gelang karet’ yang bisa ditarik kekiri, kekanan, keatas, kebawah, kesamping, kedepan, kebelakang dan kemana saja sesuka-sukanya. Agama sudah menjadi ‘gelang karet’. Sebagaimana sifat karet yang mampu mengikat sebuah barang dengan kencang maupun kendor. Artinya sosok ulama dalam ruang lingkup penilaian agama mayoritas (seperti telah disebutkan di atas) bisa memfungsikan agama semaunya dan ulama tidak boleh dibantah dan harus menjadi kebenaran mutlak.

Dalam mengimplementasikan agama sesuka hatinya, tentu saja tokoh agama memiliki kepentingan-kepentingan tertentu (kepentingan kekuasaan, kepentingan politik, kepentingan agama, kepentingan popularitas, kepentingan ekonomi, kepentingan budaya, kepentingan sosial atau bisa jadi kepentingan teknologi dan informasi). Sejumlah tokoh agama yang berperan sebagai sosok agama dan memainkan dirinya sebagai Tuhan. Contohnya ialah seseorang yang mengaku ustadz atau ulama berani menghina dan mengecam penganut agama lain dan juga agamanya sendiri karena adanya perbedaan dalam menafsirkan ayat-ayat di kitab suci. Belum lagi ada sejumlah penganut agama mayoritas yang mengklaim dirinya sebagai ulama atau keturunan nabi.

Sesungguhnya para tokoh agama adalah pewaris nabi. Tapi sayangnya dakwah yang dilakukan mereka lebih banyak didominasi oleh ujaran kebencian terhadap orang-orang yang berbeda kepentingan maupun agama. Padahal ajaran agama itu menyejukkan. Akhirnya agama mayoritas dan para penganutnya di Indonesia berubah menjadi monster yang begitu mengerikan, menakutkan, kejam dan sadis.

Coba Anda tengok fakta lainnya, banyak pejabat negara dan anggota parlemen yang korupsi ‘gila-gilaan’ berlindung dibalik agama, segelintir oknum politisi yang diduga kuat ingin ‘membunuh’ pejabat KPK mengaku penganut agama, sejumlah oknum yang diduga merencanakan aksi makar mengatasnamakan agama, aksi persekusi sekelompok ormas lantang menyebut-nyebut agama, aksi demo politik mengatasnamakan bela agama, sekelompok orang ingin mengganti Pancasila karena dinilai tidak sesuai dengan ajaran agama, menebar fitnah dan hoaks selalu menggunakan jargon agama, politisi rakus dan serakah rajin meneriakkan agama, perbuatan intoleransi sekelompok orang selalu membawa-bawa agama. Pokoknya semua dikaitkan dengan agama. Akhirnya, agama di Indonesia menjadi bahan ‘lelucon’ agama lain sekaligus menjadi alat untuk membunuh yang paling ampuh.

Penganut agama mayoritas di Indonesia menjadi begitu hina derajatnya dalam agama itu sendiri. Perlahan tetapi pasti, bila agama terus-menerus dijadikan sebagai senjata mematikan, maka agama bukan hanya kehilangan TUHAN, tetapi juga kehilangan nilai-nilai KASIH SAYANG dalam pergaulan sosial.

LIHAT JUGA:

Indocomm.blogspot.co.id

www.facebook.com/INDONESIAComment/

plus.google.com/+INDONESIAComment

@INDONESIAComment

@wawanku86931157

@INDONESIAComment

Deenwawan.photogallery.com

Foto: Istimewa

Demi Waktu dan Bulan Ramadhan (puasa hari ke-23)

Waktu adalah bagian terpenting dalam kehidupan manusia, terlebih lagi saat bulan ramadhan.

TakdirNnya sudah menunjuk waktu sebagai penentu atas apa-apa yang terjadi di jagat raya. Disadari atau tidak semua makhluk hidup berada dalam genggaman waktu. Waktulah yang menentukan jalan hidup manusia sampai akhir zaman. Waktu dalam pandangan Imam Ali bin Abi Thalib AS yang tertuang dalam kata mutiara ke 21 Nahjul Balaghah menyebutkan, ‘Kesempatan berlalu laksana awan, oleh karena itu kejarlah kesempatan-kesempatan baik.’

Waktu dalam tafsir Imam Ali AS adalah nikmat zatNya yang sangat mulia untuk manusia, tetapi sangat singkat kehadirannya. Saking cepatnya proses perjalanan waktu, Imam Ali menganalogikan waktu seperti awan-awan di langit yang cepat berlalu. Waktu hanya mampir sebentar dalam kehidupan. Tingginya derajat waktu wajib diapresiasi manusia dalam bentuk bersikap dan berperilaku baik terhadap seluruh CiptaanNya di jagat raya. Waktu atau masa sungguh sangat bernilai dibandingkan dengan apapun yang ada di muka bumi.

Waktu adalah mukjizatNya untuk manusia. Begitu pentingnya waktu, Allah SWT sampai bersumpah “Demi Masa! Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh dan mereka pula berpesan-pesan dengan kebenaran serta berpesan-pesan dengan kesabaran"(Surah Al-Asr Ayat 1-3).

Filsuf Jerman Immanuel Kant menandaskan, waktu adalah bagian dari akal budi manusia. Ia tidak berada di alam melainkan di dalam pikiran manusia. Pada awal abad 20, ahli filsafat barat banyak menggali tentang waktu dari para filsuf timur, terutama dalam tradisi taoisme dan buddhisme yang berkembang di Cina dan India. Dalam filsafat timur, waktu dilihat sebagai persepsi manusia. Pandangan ini sudah lama mengakar dalam tradisi Cina dan India. Waktu tak bisa dilepaskan dari pikiran manusia. Jadi, waktulah penentu jalan hidup manusia.

Saat ini, mungkin sebagian besar dari kita telah menyia-nyiakan waktu. Manusia mengendalikan waktu dengan seenaknya. Sifat-sifat individualistik manusia dalam merekayasa waktu tercermin dari pernyataannya yang menyepelekan waktu seperti buang waktu, mengulur waktu, mengatur waktu, manajemen waktu, belum waktunya, sudah waktunya, tawar-menawar waktu, bermain waktu, dan semua kalimat dan kata yang merendahkan ekistensi waktu.

Di sisi lain, waktu sudah mendapat mandat kuasa dari Allah SWT untuk menurunkan takdirNya tentang apa yang akan terjadi di jagat raya. Ketika waktu sudah memutuskan, maka manusia dan makhluk apapun yang ada di alam semesta tak bisa lagi melawan waktu. Waktu punya hak penuh untuk bertindak seketika. Kalau waktu sudah jatuh tempo, maka sujud manusia sudah tak berarti lagi. Yuk kita isi bulan ramadhan ini dengan kegiatan yang mengandung nilai ibadah. Wassalam?

Selamat berbuka puasa bro... [ Wawan Kuswandi ]

LIHAT JUGA:

Indocomm.Blogspot.Co.Id

www.Fb.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

@wawan_kuswandi

#INDONESIAComment

@wawankuswandi

@indonesiacommentofficial

ICTV Televisi Inspirasi Indonesia

THE WAWAN KUSWANDI INSTITUTE

Deenwawan.Photogallery.Com

Foto: Ist

Monday, June 8, 2020

Mukjizat Mulia Ramadhan (puasa hari ke-24)

Sesungguhnya hanya orang-orang beriman yang menunaikan puasa Ramadhan dengan ikhlas. Allah SWT berfirman, “Wahai orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”(QS Al Baqarah 2:183).

Puasa Ramadhan bukan hanya menyucikan diri manusia secara lahir dan bathin, tetapi juga menjadi serum paling ampuh untuk mencegah dan menyembuhkan penyakit. Kalangan nonmuslim yang mengakui mukjizat puasa, diantaranya ialah Napoleon Bonaparte yang mengatakan, “terapiku adalah puasa”. Prof. Nicholev Wanzlop, ilmuwan Rusia mengungkapkan, “lapar dapat berguna sebagai terapi kesehatan”. Tahun 1975, Allan Cott dalam artikelnya berjudul Fasting as A Way of Life menyebutkan, “Puasa memberikan istirahat fisiologis menyeluruh bagi sistem pencernaan, sistem saraf pusat dan menormalisasi metabolisme”.

Mukjizat sosiologis dari puasa ialah meningkatkan toleransi sosial antarsesama makhluk hidup, memotivasi manusia untuk mempelajari, memahami dan mendalami ayat-ayat Al Quran, memperkokoh iman dan taqwa serta rasa syukur manusia kepada Allah SWT. Diantara banyaknya mukjizat ibadah puasa, Allah Ta’ ala memberikan predikat ‘mukjizat termulia’ untuk puasa Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah engkau melaksanakan puasa karena tidak ada yang semisal dengannya” (HR Nasa’i, Ibnu Hibban dan Al Hakim).

Pahala orang yang berpuasa Ramadhan tidak terbatas dan mereka memiliki dua kebahagiaan. Rasulullah SAW bersabda, “Semua amalan bani Adam adalah untuknya kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya, dan puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian berpuasa maka janganlah ia berkata keji dan berteriak-teriak. Jika ada orang yang mencacinya atau mengajaknya berkelahi maka hendaklah ia mengatakan, ‘sesungguhnya aku sedang berpuasa’. Dan demi Allah yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau misk. Orang yang berpuasa mempunyai dua kegembiraan, ia bergembira ketika berbuka, dan ia bergembira ketika bertemu dengan rabbnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Puasa dan Al Quran akan memberi syafaat kepada orang-orang beriman yang ikhlas menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda, “Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat pada hari kiamat. Puasa mengatakan ‘Wahai Rabbku, aku menghalanginya dari makan dan syahwat pada siang hari maka berilah ia syafaat karenaku.’ Al-Qur’an berkata, ‘Aku menghalanginya dari tidur di malam hari, maka berilah ia syafaat karenanya.” Rasulullah mengatakan, “Maka keduanya akan memberikan syafaat” (HR Ahmad dan Hakim).

Tak ada satu pun makhluk di alam raya ini yang mengetahui mukzijat termulia yang akan diterima orang-orang beriman saat melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, kecuali Allah Ta?Ala. Wassalam...

Selamat berbuka puasa bro... [ Wawan Kuswandi ]

LIHAT JUGA:

Indocomm.Blogspot.Co.Id

www.Fb.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

@wawan_kuswandi

#INDONESIAComment

@wawankuswandi

@indonesiacommentofficial

ICTV Televisi Inspirasi Indonesia

THE WAWAN KUSWANDI INSTITUTE

Deenwawan.Photogallery.Com

Foto: Ist

Islam ‘Rahmatan Lil Alamin’ [ Merespon Pernyataan Gus Nadir Tentang ‘Islam Wasathiyah itu Moderat’ ]

Pernyataan Nadirsyah Hosen atau biasa disapa Gus Nadir tentang ‘ Islam Wasathiyah itu Modera t’ yang dimuat media online Gatra.com (27 Mei 2019 - Baca: https://www.gatra.com/detail/news/418616/lifestyle/nadirsyah-hosen-islam-wasathiyah-itu-moderat-tanpa-kehilangan-prinsip) sangat menarik sekaligus menohok kelompok Islam radikal yang saat ini sedang bertebaran di sejumlah negara di Timur Tengah dan juga sedang terjadi di Indonesia.

Dalam pandangan saya, pernyataan itu merupakan respon Gus Nadir terhadap terjadinya kekisruhan politik di Indonesia yang mengatasnamakan Islam. Dosen di fakultas hukum Monash University Australia ini menegaskan, Islam Wasathiyah sebagai Islam moderat bisa menjadi pedoman bagi muslim Indonesia dan dunia agar terhindar dari kekisruhan politik yang selalu membawa-bawa Islam.

Menurut Gus Nadir yang juga Rais Syuriah Pengurus Cabang Nahdatul Ulama (PCNU) Australia dan Selandia baru ini, Islam Wasathiyah menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta. Rahmat Islam itu berlaku bagi seluruh umat manusia sekaligus binatang.

Saya sependapat dengan Gus Nadir. Saya meyakini bahwa semua agama, termasuk Islam pasti mengajarkan kebaikan kepada penganutnya. Sejak puluhan tahun lalu, agama sudah menjadi panduan hidup bagi rakyat Indonesia yang tertuang dalam sila pertama Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

Terjadinya kekisruhan politik yang menyeret Islam di negeri Garuda ini, semakin mencerminkan bahwa sebagian umat muslim Indonesia tidak mampu memahami Islam sebagai ‘Rahmatan Lil Alamin’, khususnya dalam konteks sosial atau kemanusiaan. Akibatnya, umat muslim gampang dibodohi oleh siapa saja, termasuk oleh para tokoh agamanya sendiri.

Dalam pandangan saya, Islam adalah ajaran cara berkehidupan yang menyejukan bagi umat muslim dan seluruh makhluk hidup di jagat raya. Jadi, ketika umat muslim melebur dalam kehidupan sosial, maka ajaran Islam otomatis akan mengalir mengikuti pergaulan sosial yang tentunya disesuaikan dengan nilai-nilai ajaran agama secara umum yang bersifat universal.

Namun faktanya, akhir-akhir ini sebagian umat muslim di Indonesia merasa bahwa merekalah pemegang peran utama dalam kehidupan sosial, termasuk dalam ranah politik. Islam dinilai oleh mereka sebagai agama mayoritas sehingga muncul tindakan anarkisme melalui aksi massa dengan mengatasnamakan Islam.

Setahu saya (maaf kalau salah), tidak ada satu ayatpun dalam Al Qur’an yang menyebutkan bahwa Islam sebagai agama mayoritas dibandingkan dengan agama lain. Dari sini saja terlihat bahwa sebagian umat muslim di Indonesia sudah ‘mengkhianati’ ajaran Islam. Islam oleh sebagian umat muslim dipaksa untuk merusak ranah kemanusiaan dan politik dalam tatanan kehidupan sosial.

Nilai-nilai suci ajaran Islam dicemarkan secara transparan oleh sebagian umat muslim. Kalau semua masalah tata kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia terus-menerus dipaksa untuk ‘berislam ria’, maka lambat laun Pancasila akan musnah.

Saya menduga, sebagian umat muslim Indonesia memang benar-benar tidak memahami Islam dalam konteks sosial. Hampir semua problem sosial terus disudutkan kepada persoalan aqidah Islam. Padahal sesungguhnya, persoalan aqidah merupakan proses komunikasi spiritual antara manusia dengan Tuhan. Aqidah bukanlah ranah publik yang harus digembar-gemborkan oleh sebagian umat muslim yang berpikir kerdil terhadap ajaran Islam. Akibatnya, wajah sebagian kaum muslim Indonesia begitu mengerikan bagi kalangan nonmuslim yang pada akhirnya berujung dengan munculnya sebutan kafir, haram, anti Islam dan komunis.

Perspektif keislaman sebagian umat muslim Indonesia dalam pergaulan sosial sangat rendah dan sungguh tidak cerdas. Sekali lagi saya ingin menegaskan bahwa sebagian umat muslim Indonesia benar-benar tidak mampu menerjemahkan Islam sebagai agama ‘Rahmatan Lil’ Alamin’.

Akhirnya, saya sangat setuju dengan Gus Nadir bahwa sudah saatnya bangsa ini menjadikan Islam Wasathiyah sebagai pedoman bagi kehidupan umat muslim di Indonesia yang tujuannya untuk menjaga kedamaian antarsesama penganut agama, sekaligus sebagai sarana penyejuk bagi seluruh makhluk hidup di alam semesta tanpa kecuali. Wassalam…

Salam seruput kopi angetnya bro... [ Wawan Kuswandi ]

Keterangan Foto:Foto (kiri-kanan) Nadirsyah Hosen, dosen di fakultas hukum Monash University Australia dan Rais Syuriah Pengurus Cabang Nahdatul Ulama (PCNU) Australia dan Selandia. Wawan Kuswandi, pemerhati komunikasi massa dan mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang.(foto:ist)

LIHAT JUGA:

Indocomm.blogspot.co.id

www.facebook.com/INDONESIAComment/

plus.google.com/+INDONESIAComment

@wawan_kuswandi

#INDONESIAComment

@wawankuswandi

@indonesiacommentofficial

ICTV YouTube Channel

THE WAWAN KUSWANDI INSTITUTE

Deenwawan.photogallery.com