Showing posts with label Ramadhan. Show all posts
Showing posts with label Ramadhan. Show all posts

Sunday, August 9, 2020

Makna Sosial Silaturahim [puasa hari ke-26]

Silaturahim bukan hanya tatap muka atau temu kangen dengan keluarga dan teman-teman. Silaturahim mengandung makna humanis yang mungkin saja bisa membawa hidup kita menjadi lebih baik dari sebelumnya. Kata silaturahmi dan silaturahim sangat popular di Indonesia. Dua kata itu bukan hanya milik umat islam, tetapi hampir sebagian besar penganut agama lain pun ikut menggunakan dua kata yang penuh makna itu dalam kehidupan sehari-hari.

Kata silaturahmi dan silaturahim sudah menjadi simbol budaya masyarakat Indonesia, baik dalam tatanan komunikasi sosial maupun komunikasi non-public. Secara umum kata silaturahmi dan silaturahim di negeri garuda ini lebih banyak diartikan sebagai saling kunjung-mengunjungi kepada sanak saudara, bertamu ke rumah teman atau pulang kampung bertemu orang tua dan keluarga saat hari raya keagamaan. Dalam konteks ini, kata silaturahmi dan silaturahim diterjemahkan sebagai bentuk komunikasi tatap muka atau komunikasi langsung.

Sebenarnya ada perbedaan sangat mendasar antara kata silaturahmi dan silaturahim. Silaturahmi berasal dari dua kata yaitu silah yang artinya menyambungkan dan rahmi yang mengandung arti rasa nyeri yang diderita seorang ibu ketika melahirkan. Itu sebabnya kebencian, kedengkian dan konflik masih terus terjadi di Indonesia walaupun silaturahmi sudah terjalin. Mengapa? Karena yang kita pakai adalah kata silaturahmi yang berarti menyambung rasa nyeri.

Sedangkan kata silaturahim berasal dari kata silah yang artinya menyambungkan dan rahim berarti kekerabatan. Jadi silaturahim ialah menyambung kekerabatan diantara sesama makhluk hidup ciptaanNya.

Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda, “Belajarlah dari nasab kalian yang dapat membantu untuk silaturahim karena silaturahim itu dapat membawa kecintaan dalam keluarga dan memperbanyak harta serta memperpanjang umur”.

Dalam konteks sosial, masyarakat Indonesia seringkali menjadikan ajang silaturahim sebagai bentuk pamer harta dan benda (ketika berkunjung ke rumah sanak saudara memakai perhiasan mewah dan membawa oleh-oleh yang berlebihan). Terkadang dalam prosesnya, silaturahim juga dijadikan sarana untuk membicarakan hal-hal yang bersifat kabar burung (gosif) atau mencari dukungan massa dalam aktivitas politik (pilkada atau pilpres).

Sebenarnya, makna silaturahim ialah saling mendo?Akan, saling menolong, saling berbagi rezeki, saling mengingatkan dan selalu memberi kebaikan antar sesama makhluk ciptaan Tuhan. Sudahkah kita melakukan silaturahim dengan baik dan benar? Wassalam...

Selamat berbuka puasa bro...[ Wawan Kuswandi ]

Indocomm.Blogspot.Co.Identification

www.Fb.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

@wawan_kuswandi

#INDONESIAComment

@wawankuswandi

@indonesiacommentofficial

ICTV Televisi Inspirasi Indonesia

THE WAWAN KUSWANDI INSTITUTE

Deenwawan.Photogallery.Com

Foto: Ist

Friday, July 31, 2020

Saat Ramadhan, Pilihlah Dakwah Progresif Edukatif (puasa hari ke-15)

Saya bersyukur kepadaNya karena di Indonesia saya bisa belajar ilmu agama islam bukan hanya dari buku-buku, sekolah non formal keagamaan atau institusi/sekolah khusus keagamaan (pesantren) yang banyak bertebaran di Indonesia, tetapi juga bisa melalui media massa dan sosial media (dengan catatan saya harus mengkritisi setiap artikel yang ada).

Namun, ditengah-tengah tingginya rasa syukur, saya masih merasa prihatin ketika melihat banyaknya pemimpin umat islam yang dalam syiar agama atau berdakwahnya tidak lagi sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW.

Banyak para pendakwah islam, saat berceramah lebih banyak mengutamakan unsur menghujat, mengumbar kebencian, mengecam, mendiskreditkan atau mengklaim dirinyalah yang paling benar dan pantas untuk diikuti.

Sedikitnya ada 3 (tiga) version dakwah islam yang selama ini saya temui yaitu :

1. Dakwah islam provokatif. Dakwah ini dilakukan para pendakwah islam dengan mengumbar kebencian atas adanya perbedaan keyakinan atau prinsip-prinsip dasar keagamaan. Kalimat yang dilontarkan dalam dakwah ini sengaja diciptakan untuk menyulut emosi jamaah. Contohnya ialah ungkapan mengkafir-kafirkan penganut agama lain atau dengan mudahnya mengeluarkan pernyataan bid’ah terhadap sesama penganut agama yang sama. Dakwah provokatif bisa melahirkan permusuhan antarumat beragama. Umumnya, dakwah provokatif banyak dilakukan oleh para pemimpin ormas keagamaan atau oleh pendakwah islam yang memiliki kepentingan tertentu.

2. Dakwah islam statik dogmatik. Dakwah ini dilakukan para pendakwah islam dengan materi yang sangat sederhana, tidak ada inovasi atau analisis dan penafsiran mendalam terhadap ajaran agama islam. Dakwah ini membuat jamaah pasif dan tidak kritis serta tidak mampu melihat agama islam dalam konteks yang lebih luas untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Dakwah islam statik dogmatik banyak dilakukan oleh para pendakwah yang tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman luas dalam ilmu agama islam.

3. Dakwah islam Progresif edukatif. Dakwah ini dilakukan para pendakwah islam dengan materi yang informatif, progresif, komprehensif dan edukatif. Dakwah edukatif lebih banyak memberikan pengajaran, pengarahan dan bimbingan mendalam tentang agama islam kepada jamaah. Dakwah ini membuat jamaah menjadi lebih cerdas dan berkualitas dalam beragama. Dakwah edukatif banyak dilakukan oleh para pendakwah islam yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang sangat luas. Sekarang, mana dakwah yang Anda pilih?

Selamat berbuka puasa bro...[ Wawan Kuswandi ]

LIHAT JUGA:

www.Facebook.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

Indocomm.Blogspot.Com

#INDONESIAComment

@INDONESIAComment

@Indonesiacommentofficial

ICTV Televisi Inspirasi Indonesia

THE WAWAN KUSWANDI INSTITUTE

Deenwawan.Photogallery.Com

Foto: ist

Wednesday, July 22, 2020

Mudik, Perjalanan Spiritual di Akhir Ramadhan (puasa hari ke-20)

Mudik alias pulang kampung menjelang hari raya Idul Fitri, Natal dan Imlek sudah menjadi pemandangan biasa di Indonesia. Bejibunnya warga pendatang di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, menjadikan mudik sebagai tradisi massif yang hampir menjadi sebuah kewajiban.

Tradisi mudik juga terjadi di negara-negara lain di dunia. Momen mudik di Indonesia identik dengan perjalanan fisik seseorang menuju daerah tujuan tertentu, baik yang berjarak jauh maupun dekat. Pertanyaannya ialah pentingkah mudik bagi kita?

Penting atau tidaknya mudik tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Mudik menjadi sangat tidak penting ketika mudik dimaknai sebagai bentuk menyombongkan diri saat bertemu keluarga dan para tetangga di kampung. Mudik menjadi tidak penting ketika kita melalaikan kewajiban ibadah dalam perjalanan. Mudik menjadi tidak penting ketika kita melalaikan keselamatan dalam perjalanan pulang kampung. Mudik menjadi tidak penting ketika kita berfoya-foya dengan berbagai kemewahan di kampung. Mudik menjadi tidak penting ketika kita tidak saling berbagi rezeki kepada keluarga dan sanak saudara yang ada di kampung. Mudik menjadi tidak penting lagi, ketika kita menjadikan mudik hanya sebagai simbol status sebagai seorang perantau sukses dan masih banyak lagi cerita-cerita mudik yang tidak penting. Ujung-ujungnya, mudik alias pulang kampung tidak lebih hanya sekadar euphoria fisik secara massal.

Namun, mudik akan menjadi sangat penting ketika kita memaknai pulang kampung sebagai perjalanan spiritual dalam menjalankan ibadah puasa sebelum merayakan hari raya Idul Fitri atau Idul Adha. Mudik menjadi sangat penting bila didasari oleh niat tulus kita untuk bertemu dengan keluarga, orang tua dan sanak saudara. Mudik menjadi sangat penting ketika bathin kita mengucap rasa syukur kepada Tuhan atas segala nikmat perjalanan rohani dan jasmani selama menjalankan ibadah.

Mudik menjadi sangat penting ketika kita berniat mempererat dan menyambung tali silaturahim yang pernah terputus dengan keluarga. Mudik bukan hanya sebatas perjalanan fisik semata, tetapi merupakan wujud hijrah bathin seseorang.

Mudik, menurut sosiolog Emile Durkheim (1859-1917) disebut dengan solidaritas organik. Mudik bisa menjadi salah satu jalan melanggengkan solidaritas organik, ketika masyarakat sebelum dan sesudah hari raya kadang sibuk dengan urusan masing-masing yang bisa saling melupakan silaturahim antarsesama.

Dengan mudik akan terjalin proses interaksi sosial (social contact), dengan itu kita bisa meluangkan perasaan-perasaan yang ingin disampaikan kepada orang lain. Mudik merupakan sebuah nilai sosial yang kemudian kembali terjalin terhadap sesama keluarga, tetangga, maupun sahabat. Sudahkah Anda menjadikan mudik sebagai perjalanan religious pribadi secara lahir dan bathin? Jawabannya hanya Anda yang tahu.

Selamat berbuka puasa bro...[Wawan kuswandi]

LIHAT JUGA:

www.Fb.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

Indocomm.Blogspot.Com

#INDONESIAComment

@indonesiacommentofficial

@INDONESIAComment

ICTV Televisi Inspirasi Indonesia

THE WAWANAN KUSWANDI INSTITUTE

Deenwawan.Photogallery.Com

Foto: ist

Friday, July 17, 2020

Ramadhan Momentum Hijrah Menuju Muslim Cerdas Berkualitas (puasa hari ke-13)

Agama sangat penting bagi kehidupan manusia. Tetapi, akan jauh lebih sempurna lagi, bila manusia dalam menjalankan ajaran agamanya selalu memegang prinsip kedamaian di tengah-tengah banyaknya perbedaan agama. Umat muslim Indonesia wajib mengkritisi banyaknya pernyataan oknum yang mengaku sebagai tokoh agama, pemimpin ormas atau politisi yang cenderung bersifat menghujat, memecah-belah dan menciptakan konflik antarumat beragama.

Siapapun yang mengaku tokoh agama, pemimpin ormas atau politisi,  tetapi bila dalam setiap pernyataannya selalu menyebar ujaran kebencian, maka mereka bukanlah termasuk dalam golongan umat muslim cerdas berkualitas. Umat muslim Indonesia adalah manusia yang cinta damai. Kecerdasan dan kualitas umat muslim Indonesia wajib diwujudkan melalui pemikiran-pemikiran yang bersifat komprehensif dan universal.

Islam menjadi rahmat bagi alam semesta dan semua makhluk hidup dijagat raya. Allah SWT berfirman, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS. Al Anbiya 21:107).

Umat muslim wajib menyadari bahwa hidup adalah amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT. Umat muslim harus menanamkan pemikiran yang jernih, jujur dan bersih. Islam telah menempatkan orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan pada derajat yang lebih tinggi, sebagaimana firman Allah SWT, “...Niscaya Allah akan meninggikan orang -orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat...”(QS. Al Mujadilah 58:11).

Sudah selayaknya umat muslim Indonesia berani menyentuh realitas kehidupan sosial. Saling toleransi antarsesama umat beragama akan menjadikan umat muslim bukan hanya berkualitas, tetapi juga menunjukkan derajat hidupnya yang mulia di alam raya.

Terlalu banyak manusia-manusia tak bertanggung jawab di Indonesia yang mengklaim dirinya sebagai tokoh agama, pemimpin ormas atau politis, tetapi sikap dan perilakunya tidak mencerminkan gaya hidup islami. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” (QS Al Hujurat 49:6).

Selamat berbuka puasa bro...[ Wawan Kuswandi ]

LIHAT JUGA:

www.Facebook.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

Indocomm.Blogspot.Com

@INDONESIAComment

INDONESIACommentofficial

ICTV Televisi Inspirasi Indonesia

THE WAWAN KUSWANDI INSTITUTE

#INDONESIAComment

Deenwawan.Photogallery.Com

Foto: Ist

Wednesday, July 8, 2020

Nikmat Berkah Diantara Bulan Rajab dan Ramadhan (puasa hari ke-14)

Sebelum memasuki bulan ramadhan, umat muslim melaksanakan ibadah puasa sunnah di bulan Rajab. Kedua bulan ini mengandung nikmat berkah dari Allah SWT.

Dalam sebuah riwayat, ada hadist yang menyebutkan bahwa bulan Rajab memiliki keistimewaan yang derajatnya hampir sama dengan bulan Ramadhan. Berpuasa di bulan Rajab, memiliki keutamaan khusus bagi umat muslim yang menjalankannya.

Riwayat al-Thabarani dari Sa’id bin Rasyid mengatakan, “Barangsiapa berpuasa sehari di bulan Rajab, maka ia seperti berpuasa setahun, bila berpuasa 7 hari, maka ditutuplah pintu-pintu neraka jahanam dan bila puasa 8 hari dibukakan untuknya 8 pintu surga, bila puasa 10 hari, Allah akan mengabulkan semua permintaannya.”

BACA JUGA: Amien Versus Luhut: Tontonan ?Politik Opera Sabun?

Pada malam Mi’raj, ketika Rasullullah SAW melihat sungai yang airnya lebih manis dari madu dan baunya lebih harum dari minyak wangi, Rasul langsung bertanya kepada malaikat Jibril AS, “Wahai Jibril untuk siapakah sungai ini?” Jibril menjawab, “Ya Muhammad sungai ini adalah untuk orang yang membaca shalawat untuk engkau di bulan Rajab”.

BACA JUGA: Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1940

Bulan Rajab merupakan salah satu mukjizat dari Allah Ta?Ala, sejak langit dan bumi pertama kali diciptakanNya. Kedatangan bulan Rajab merupakan pintu pembuka menuju bulan Ramadhan. Di bulan Rajab, umat muslim wajib bersiap-siap untuk menyucikan dirinya dengan melakukan shaum di bulan Ramadhan.

Walaupun tidak ada ritual khusus di bulan Rajab, namun bulan Rajab sangat istimewa karena pada saat itulah terjadi peristiwa huge dalam sejarah umat Islam yang mengimani Allah SWT dengan segala petunjuknya dalam Al Qur?An. Bahkan, ada sebagian ulama mengatakan bahwa peristiwa Isra? Dan Mi?Raj terjadi tanggal 27 Rajab. Benarkah? Wallahu a?Lam. Peristiwa Isra? Mi?Rad menjadi tonggak awal bagi umat muslim untuk melaksanakan kewajiban shalat lima waktu. Dalam terminologi Islam, bulan Rajab juga merupakan salah satu bulan yang sangat dimuliakan Allah SWT.

BACA JUGA: Sir William Henry Perkin Dan Eksklusivitas Warna Ungu

Mungkin masih ada sebagian umat muslim yang belum mengetahui keistimewaan lain yang terkandung dalam bulan Rajab. Dalam sejarah Islam, bulan Rajab menjadi awal kebangkitan dan kemenangan Islam ketika berperang dengan pasukan Romawi yang dikenal kuat dan tangguh pada masa itu. Pada bulan Rajab, Tahun 9 H, Rasulullah SAW bersama 30 ribu pasukan muslimin meninggalkan Madinah dan pergi menuju Tabuk di wilayah Syam (sekarang Suriah) untuk berperang dengan pasukan Romawi. Pasukan Rasul SAW mampu bertahan menghadapi cuaca panas, saat melalui gurun pasir sepanjang ratusan kilometer.

BACA JUGA: BUKU 'Secangkir Opini Jakarta dan Ahok' TELAH TERBIT, MILIKI SEGERA!

Ketika mengetahui pasukan muslim dipimpin langsung Rasulullah SAW, pasukan Romawi mulai takut. Kemudian, pasukan Romawi mundur dan bertengger di bentengnya. Namun, pasukan Rasul SAW terus merangsek dengan gigih dan berani. Akhirnya pasukan Romawi kocar-kacir dan takluk. Tabuk berhasil dikuasai pasukan muslim. Kemenangan tragis dan dramatis dari pasukan Rasullullah SAW ini, langsung memperkokoh kekuatan Islam di seluruh Jazirah Arab.

Salam sruput teh tubruk bro…[ Wawan Kuswandi ]

LIHAT JUGA:

www.Facebook.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

Indocomm.Blogspot.Com

#INDONESIAComment

@INDONESIAComment

@INDONESIACommentofficial

ICTV Televisi Inspirasi Indonesia

THE WAWAN KUSWANDI INSTITUTE

Deenwawan.Photogallery.Com

Foto: ist

Tuesday, July 7, 2020

Mukjizat Berbuat Baik Saat Berpuasa Ramadhan (puasa hari ke-17)

Lantas bagaimana bentuk kongkret perbuatan baik? Berbuat baik memiliki makna dan dimensi yang sangat luas. Berbuat baik, bukan hanya dilakukan antarsesama manusia sebagai makhluk ciptaanNya yang berakal dan berbudi.

Berbuat baik saat berpuasa ramadhan juga wajib dilakukan kepada semua benda dan makhluk ciptaan Allah SWT yang ada di alam raya, seperti hewan, tumbuhan dan benda-benda lainnya, baik yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa. Allah SWT pasti mempunyai maksud dan tujuan tertentu ketika Dia menciptakan sesuatu di muka bumi. Allah SWT Maha Penyayang terhadap semua ciptaanNya yang ada di jagat raya.

Perbuatan baik ketika sedang berpuasa ramadhan dapat diwujudkan dalam bentuk perkataan lisan dan tulisan yang santun dan beradab, berperilaku dan bersikap sopan dan bermoral, saling sayang menyayangi, saling tolong menolong, menghormati hak orang lain, menjaga hubungan silaturrahim dengan antarsesama manusia tanpa dibatasi oleh Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA).

Dengan tetap menjaga perbuatan baik dalam bentuk kasih sayang antarsesama, maka keimanan kita terhadap Allah SWT di bulan ramadhan akan semakin kokoh. Dalam proses hubungan antarmanusia ini, Allah SWT berfirman dalam surat Ali Imran ayat 14, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)".

Dalam soal kasih sayang, Allah SWT juga berfirman dalam surat Maryam ayat 96, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang”.

Rasa kasih sayang ini wajib kita lakukan bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada semua makhluk dan seluruh benda ciptaanNya yang ada di jagat raya, tanpa pilih kasih. Allah SWT berfirman dalam surat Luqman ayat 10, “Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembangbiakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik".

Lalu, bagaimana caranya bersikap terhadap orang yang membenci, syirik, iri atau dengki terhadap Anda yang sedang berpuasa? Jawabannya sangat sederhana, tetapi mungkin sulit untuk dilakukan yaitu balaslah kebencian orang lain kepada Anda dengan tetap memberikan kasih sayang yang tulus dan ikhlas, tidak menyimpan dendam, tetap menjaga silaturrahim dan selalu mendoakan orang yang membenci Anda agar dia diberi petunjuk dan jalan yang lurus olehNya.

Percayalah sebuah perbuatan baik sekecil apapun di muka bumi niscaya akan mendapatkan kebaikan dari Allah SWT, baik di dunia maupun Akherat. Ketentraman, kenyamanan dan ketenangan hidup mungkin merupakan bagian terkecil dari mukjizat berbuat baik. Masih banyak mukjizat lainnya yang lebih sempurna akan diberikan oleh Allah SWT kepada orang yang berbuat baik. Namun, semua mukjizat itu menjadi rahasia Allah SWT.

Sedikitnya, ada tiga perbuatan baik yang bisa Anda lakukan saat berpuasa yaitu pertama berkata baik, kedua berbuat dan bersikap baik, ketiga berdoa untuk sesama. Nah Mulai hari ini dan seterusnya, mari kita sama-sama selalu menebar dan menanamkan kebaikan dan kasih sayang kepada semua makhluk dan benda-benda yang ada di alam raya. Wassalam..

Salam berbuka puasa bro... [Wawan Kuswandi]

LIHAT JUGA:

www.Fb.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

Indocomm.Blogspot.Com

@indonesiacommentofficial

@INDONESIAComment

#INDONESIAComment

Deenwawan.Photogallery.Com

ICTV Televisi Inspirasi Indonesia

THE WAWAN KUSWANDI INSTITUTE

Foto: ist

Monday, July 6, 2020

Menjadi Muslim yang Menyejukan Untuk Alam Semesta? (puasa hari ke-16)

Kaum muslim wajib menjadi subjek yang menyejukan bagi seluruh makhluk hidup ciptaanNya yang ada di alam semesta. Bagaimanakah eksistensi kaum muslim di Indonesia, apakah masih berwujud fisik agamawi semata atau bersifat moral agamawi?

Dalam tulisan pendek ini, saya mencoba memberi jawaban sederhana terhadap pertanyaan di atas, agar pembaca bisa memahaminya sekaligus mencerahkan sisi lahir dan bathin saya dan juga Anda.

BACA JUGA:Touring Chopper Di Sukabumi Dan Komunikasi Politik Jokowi

Sesungguhnya, seorang muslim yang alim atau taat, tidak mutlak ditentukan oleh khatam Al Qur?An puluhan kali, hafal surat-surat pendek Juz?Amma, sering menunaikan ibadah haji, berpakaian gamis atau jilbab, sering berceramah di majelis taklim, rajin bersedekah, melakukan puasa sunnah dan wajib serta menjalankan sholat lima waktu. Lantas apa ukurannya?

BACA JUGA: Indonesia Bubar 2030, Ekspresi Panik Prabowo?

Semua aktivitas muslim yang telah saya disebutkan di atas, hanyalah sebatas fisik agamawi, bukan moral agamawi. Kenapa demikian? Ya, Karena mungkin saja mereka memahami dan menjalankan ajaran Islam hanya sebatas fisik atau raga semata. Faktanya, masih ada sebagian besar kaum muslim yang sudah melakukan aktivitas fisik agamawi seperti di atas, tetapi kelakuannya masih tidak manusiawi dan islami, ketika mereka berhubungan dengan sesama makhluk hidup ciptaan Tuhan (manusia, hewan, tumbuhan dan seluruh benda) yang bertebaran di alam raya.

BACA JUGA: Amien Versus Luhut: Tontonan ?Politik Opera Sabun?

Islam itu ajaran perbuatan baik, menyejukan dan saling menyayangi antasesama makhluk hidup. Islam itu bukan hanya sekadar ibadah person, tetapi juga ibadah sosial. Ajaran Islam sangat terkait dengan perbuatan sosial tanpa pilih kasih. Islam itu bukan hanya sekadar berwujud gelar ulama, habib, ustadz, dai dan kyai saja.

BACA JUGA: PK Ahok Ditolak MA: Antara Keadilan Dan Ketidakadilan Hukum

Mungkin akan menjadi hal yang sia-sia saja, bila seorang muslim yang sudah meyakini rukun Islam dan rukun Iman, tetapi perbuatan dan perkataannya dalam kehidupan sehari-hari selalu menebar kebencian dan permusuhan. Bahkan merasa diri sudah paling benar diantara banyaknya perbedaan.

BACA JUGA: Mau Tahu Sembilan Indikator yang Mendukung Ahok? Baca Ebook ini

Sudah seharusnya sikap dan perilaku kaum muslim bukan hanya mengutamakan fisik agamawi tetapi juga menerapkan nilai-nilai moral agamawi. Sayangnya di Indonesia, sebagian besar penganut Islam dan tokoh agamanya, masih ada saja yang merasa dirinya paling Islam dibanding yang lain, ketika mereka sudah melaksanakan kegiatan fisik agamawi. Padahal, kenyataannya, mungkin saja merekalah yang justru sering mencermarkan ajaran agama. Mana yang Anda pilih, menjadi muslim fisik agamawi atau moral agamawi? Jawabannya terserah Anda.

Salam berbuka puasa bro...[ Wawan Kuswandi ]

BACA JUGA: BUKU 'Secangkir Opini Jakarta dan Ahok' TELAH TERBIT, MILIKI SEGERA!

LIHAT JUGA:

www.Fb.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

Indocomm.Blogspot.Com

@INDONESIAComment

@indonesiacommentofficial

ICTV Televisi Inspirasi Indonesia

THE WAWAN KUSWANDI INSTITUTE

#INDONESIAComment

Deenwawan.Photogallery.Com

Foto: ist

Sunday, July 5, 2020

Marhaban Ya Ramadhan, Menuju Kesucian Diri (Puasa Ke-1)

Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang memberikan Ramadhan sebagai bulan ?Khusus? Kepada makhluk ciptaanNya di jagat raya untuk membersihkan jiwa dan raganya agar mencapai derajat kesucian diri secara lahir dan bathin. Umat Islam wajib menjaga kebersihan lisan, hati, pikiran, sikap serta perilakunya selama 24 jam di bulan suci Ramadhan.

Segenap umat Islam dimanapun berada diwajibkan untuk berpuasa Ramadhan. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al Baqarah 2:183).

BACA JUGA: Komentar Fadli Zon Soal Bom Surabaya, Ngawur?

Ibadah puasa mengandung makna mengendalikan diri dari godaan hawa nafsu sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Puasa menuntun manusia untuk mencapai derajat ketaqwaan yang paling hakiki kepadaNya. Puasa menjadi salah satu ujian keimanan manusia, khususnya umat Islam kepada Allah SWT.

Berpuasa bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus. Esensi berpuasa ialah manusia wajib mengendalikan jiwa dan raganya dari kenikmatan hidup selama 24 jam (satu hari) dalam satu bulan. Jadi, bukan berarti setelah berbuka puasa (malam hari), umat Islam bebas melakukan apa saja. Umat Islam wajib menahan lisan, hati, pikiran, sikap dan perilakunya selama 24 jam dari berbagai ?Kotoran? Yang mungkin saja mencemarkan ibadah puasa.

Bagi umat Islam yang telah berumah tangga (menikah), Allah SWT menurunkan firmanNya, “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu, mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertaqwa”. (QS Al Baqarah 2:187).

Hakekat Puasa

Menunaikan ibadah puasa Ramadhan bukan 12 jam alias mulai dari imsak/subuh hingga adzan Maghrib tiba. Sepengetahuan saya, sebagian umat muslim di Indonesia melakukan puasa hanya pada saat pagi [selesai imsak/subuh] hingga adzan maghrib tiba. Saya melihat puasa itu lebih bersifat jasmani semata [menahan lapar dan haus serta kebutuhan biologis].

Semestinya, di bulan ramadhan, umat muslim bukan hanya melakukan puasa yang bersifat jasmani saja, tetapi juga puasa yang bersifat rohani [mulai dari imsak/subuh sampai datang imsak/subuh kembali). Kalau itu dilakukan [puasa jasmani dan rohani], maka puasa dilaksanakan selama 24 jam selama bulan ramadhan.

Faktanya, sebagian besar umat muslim, ketika usai berbuka puasa jasmani [adzan Maghrib], umumnya mereka mengabaikan puasa rohani pada malam hari. Sebagian besar umat muslim tidak lagi mampu mengontrol sikap, perilaku, pikiran dan perkataannya. Bahkan, ada yang tidak melaksanakan ibadah-ibadah sunnah yang diyakini akan melengkapi kesempurnaan ibadah puasa. Dari sini tampak jelas bahwa sebagian besar umat muslim memahami puasa ramadhan hanya sebatas puasa jasmani. Padahal, hakekat puasa ramadhan ialah seorang muslim wajib menunaikan puasa jasmani dan rohani selama 24 jam di bulan ramadhan.

Sayangnya, umat muslim belum memahami hakekat puasa Ramadhan dengan sebenar-benarnya. Bagi saya, puasa ramadhan itu merupakan media yang diberikan Tuhan secara istimewa kepada kaum muslim untuk membersihkan diri secara jasmani (lahir) dan rohani (bathin) selama 24 jam. Allah SWT memegang hak prerogatif dalam menilai puasa Ramadhan yang dilaksanakan umat muslim.

Menjaga kebersihan jasmani dan rohani saat berpuasa juga tidak harus berakhir ketika bulan ramadhan selesai. Kebersihan jiwa dan raga, lahir dan bathin serta jasmani dan rohani harus terus dijaga dan dilakukan umat muslim untuk selamanya sampai kepada titik ketika seorang umat muslim berpulang kepadaNya. Sudahkah umat muslim memahami hakekat puasa ramadhan dengan sebenar-benarnya? Mari kita renungkan bersama. Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1439 H. Wassalam.

Salam berbuka puasa dengan teh tubruk anget bro...

Www.Fb.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

@wawan_kuswandi

Indocomm.Blogspot.Com

#INDONESIAComment

Deenwawan.Photogallery.Com

foto: Ist

Saturday, July 4, 2020

Nikmatnya Berserah Diri [puasa hari ke-8]

Perbedaan kedua kalimat diatas sangat jelas terlihat, saat umat muslim menjalankan puasa Ramadhan. Kalimat ?Pasrah diri? Mengandung makna pasif, malas, rendah diri dan putus asa. Dalam ajaran Islam, umat muslim dianjurkan untuk menghindari ?Pasrah diri? Ketika menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan sosialnya.

Sedangkan kalimat ?Berserah diri? Memiliki makna aktif serta rendah hati. Perjalanan umat muslim saat memulai puasa hingga saat berbuka merupakan wujud berserah diri manusia kepada Allah SWT dengan tulus dan ikhlas.

Umat muslim yang berserah diri kepada Allah SWT akan terhindar dari rasa sombong,contohnya ketika dia sedang berpuasa dengan tidak menyebut-nyebut puasanya akan mendapat ganjaran pahala, masuk surga atau dirinya merasa lebih bersih dan suci seperti bayi baru lahir.

Pahala dan surga itu hak mutlak Allah SWT. Salah satu nikmat Allah SWT yang sering dilalaikan umat muslim ialah nikmat berserah diri kepadaNya. Jadi, semua proses puasa Ramadhan yang dilakoni umat muslim dari awal hingga akhir, hasilnya merupakan hak Tuhan. Inti puasa Ramadhan ialah berserah diri.

Sebagai penutup tulisan pendek ini, saya ingin mengutip firman Allah SWT dalam surat Surat An-Nahl, Ayat 81, “Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri kepada-Nya” Wassalam...

Selamat berbuka puasa brooo…[ Wawan Kuswandi ]

LIHAT JUGA:

www.Facebook.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

@wawan_kuswandi

Indocomm.Blogspot.Com

@INDONESIAComment

Deenwawan.Photogallery.Com

foto: istimewa

Friday, July 3, 2020

Batas Sebuah Do’a [puasa hari ke-9]

Siapapun Anda, pasti mengenal yang namanya Do’a. Dalam ritual ibadah agama apapun, do’a memainkan peran sangat penting. Do’a merupakan proses komunikasi khusus yang dilakukan seseorang atau sekelompok massa kepada Tuhan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam do’a ada kejujuran, ada kekhusyuan, ada ketulusan, ada keikhlasan, ada berserah diri, ada ketenangan, ada kesyukuran dan ada kedamaian.

Seluruh manusia (tanpa kecuali) di jagat raya percaya dan meyakini bahwa do’a adalah cara terbaik untuk mendapatkan solusi atas segala persoalan hidup. Berdo’a juga menjadi media untuk menyampaikan keinginan pribadi maupun kelompok kepada Tuhan. Do’a mencerminkan betapa ‘kecilnya’ manusia dihadapan tuhan.

Akhir-akhir ini, disadari atau tidak, manusia telah menjadikan do’a sebagai alat untuk mengungkapkan keluhan, kekecewaan, kemarahan dan ketidakpuasan atas berbagai keputusan yang sudah digariskanNya.

Dalam praktiknya, antara berdo’a yang tulus dan ikhlas dengan berdoa yang didasari oleh ketidakpuasan manusia sangat berbeda jauh. Berdo’a karena didasari oleh ketidakpuasan lebih memperlihatkan kepentingan duniawi sehingga do’a yang dipanjatkan panjang lebar. Umumnya, isi do’anya juga berupa permintaan kepada Tuhan yang beraneka macam.

Dalam perspektif berbeda, do’a yang dipanjatkan seseorang dengan tulus dan ikhlas merupakan proses berserah diri manusia kepadaNya, karena Dia Maha Tahu atas apa yang dirasakan dan dibutuhkan manusia. Jadi, do’a itu tidak harus berpanjang-panjang kata dan bukan melulu menuntut kepentingan duniawi.

Menurut saya, do’a yang kita panjatkan kepadaNya harus to the point (singkat, jelas dan fokus). Disinilah makna sesungguhnya do’a. Sebenarnya, Intisari do’a adalah hubungan komunikasi bathin manusia dengan Tuhan sebagai bentuk rasa syukur atas semua takdir yang diturunkanNya. Efek dashyat dari sebuah do’a ialah rasa keimanan dan ketaqwaan manusia kepadaNya akan semakin meningkat. Wassalam…

Selamat berbuka puasa bro...[ Wawan Kuswandi ]

LIHAT JUGA:

Indocomm.blogspot.co.id

www.facebook.com/INDONESIAComment/

plus.google.com/+INDONESIAComment

@wawan_kuswandi

@INDONESIAComment

Deenwawan.photogallery.com

foto: istimewa

Mukjizat Kesempurnaan Bacaan dan Gerakan Sholat (puasa hari ke-18)

Mengapa? Karena bulan Ramadhan merupakan bulan anugerah dan mukjizat dari Allah SWT yang diberikan secara langsung kepada umat muslim yang beriman.

Jadi, tak mengherankan ketika bulan Ramadhan, umat muslim berduyun-duyun memenuhi masjid maupun mushola untuk melaksanakan sholat wajib tepat waktu maupun sholat sunnah di pagi, siang, sore dan malam hari. Namun, ada satu pertanyaan kecil yang muncul di pikiran saya, apakah sholat yang saya dan Anda lakukan sudah benar sesuai tuntutan Rasulullah SAW?

Dari pertanyaan ini saya dan Anda harus berani mengevaluasi, apakah gerakan dan bacaan sholat kita sudah tepat dan benar sesuai ajaran Nabi Muhammad SAW?

Intisari Sholat adalah sebagai medium komunikasi pribadi antara seorang muslim dengan Allah SWT, baik itu sholat yang didirikan secara berjamaah maupun sendiri. Lantas, bagaimana gerakan sholat yang baik dan benar? Saya tidak akan mengupas tatacara gerakan dan bacaan sholat yang baik dan benar. Anda bisa menanyakan hal itu kepada guru ngaji Anda atau searching di Google.

Dalam tulisan sedehana ini saya hanya ingin menyampaikan nilai-nilai filosofis sholat sebatas pengetahuan yang saya miliki. Pada dasarnya, sholat itu dilakukan karena niat suci, keikhlasan dan rasa syukur seorang muslim untuk berkomunikasi dengan Allah SWT. Untuk itulah, bacaan ayat-ayat Al Qur?An yang dilantunkan, sebaik mungkin dilakukan dengan baik dan benar agar proses komunikasi sakral dengan Allah SWT berlangsung efektif dan komunikatif. Begitu juga dengan gerakan sholat, tentu saja harus sesuai dengan tatacara gerakan sholat yang benar berdasarkan petunjuk Rasulullah SAW.

Lakukanlah sholat dengan tenang, khusyuk dan penuh kerendahan hati sebagai wujud penyerahan diri kita kepada Allah SWT. Namun, faktanya, saat ini masih ada sebagian umat muslim, terkadang gerakan dan bacaan sholatnya terburu-buru. Ini terjadi karena sholat hanya dimaknai sebatas kewajiban belaka.

Kalau umat muslim melaksanakan sholat hanya karena sebatas kewajiban semata, maka yang terjadi adalah sholat cuma menjadi ritual biasa tanpa makna yang tidak menyentuh hati, pikiran, moral dan intellectual seorang muslim. Akhirnya, mungkin saja sholat saya dan Anda menjadi jauh dari nilai kesempurnaan ibadah kepada Allah SWT. Mudah-mudahan gerakan dan bacaan sholat saya dan Anda semakin menjadi sempurna ?Aamiin..

Selamat berbuka puasa bro...[ Wawan Kuswandi ]

LIHAT JUGA:

Indocomm.Blogspot.Co.Identification

www.Fb.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

@wawan_kuswandi

#INDONESIAComment

@INDONESIACommentofficial

@indonesiacomment

ICTV Televisi Inspirasi Indonesia

THE WAWAN KUSWANDI INSTITUTE

Deenwawan.Photogallery.Com

Foto: Ist

Thursday, July 2, 2020

Mukjizat Qiyaamul Lail (puasa hari ke-19)

Mengapa bulan Ramadhan begitu mulia? Karena bulan Ramadhan yang datang satu kali dalam satu tahun, menjadi momentum penting bagi umat muslim untuk menggapai kemuliaan Allah SWT. Cara terbaik untuk menggapai kemuliaan itu ialah dengan melaksanakan sholat malam secara ikhlas dan penuh rasa syukur. Rasulullah SAW bersabda, “Kemuliaan orang beriman adalah sholat malam.”

Sholat malam hukumnya sunnah mu?Akkadah (ditekankan). Kaum muslim yang rutin melakukan sholat malam sepanjang ramadhan layak menyandang gelar Shiddiqin (orang-orang yang jujur dan berlaku benar) dan syuhada (orang-orang yang ditetapkan sebagai syahid atau pembela Islam).

Sholat malam yang paling banyak dilakukan umat Islam saat ramadhan diantaranya ialah sholat Tarawih, sholat Witir, sholat Tahajud, sholat Taubat, sholat Hajat dan sholat Tasbih. Sholat-sholat sunnah itu tidak harus dilakukan di masjid, di rumahpun dapat dikerjakan. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya sholat yang paling utama adalah sholat yang dilakukan seseorang di rumahnya, kecuali untuk sholat wajib” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam sebuah hadist lain disebutkan, “Sungguh, Ramadhan adalah bulan yang diwajibkan Allah puasanya dan kusunatkan sholat malamnya. Maka, barangsiapa menjalankan puasa dan sholat malam pada bulan itu karena iman dan mengharap pahala, niscaya bebas dari dosa-dosa seperti saat ketika dilahirkan ibunya.” (HR. An-Nasa’i).

Ada juga hadist yang mengatakan, “Barangsiapa yang bangun di waktu malam kemudian membangunkan istrinya sehingga keduanya melakukan sholat dua rokaat. Maka, keduanya tercatat sebagai seorang laki dan wanita yang banyak berdzikir kepada Allah” (H.R Abu Dawud, dishahihkan Ibnu Hibban, al-Hakim, dan al-Albany).

Untuk orang-orang yang bertaqwa, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di dalam taman-taman (Surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu, di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian” [QS. Adz-Dzaariyaat 15-19]. Wassalam...

Selamat berbuka puasa bro...[ Wawan Kuswandi ]

LIHAT JUGA:

Indocomm.Blogspot.Co.Id

www.Facebook.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

@wawan_kuswandi

#INDONESIAComment

@INDONESIACommentofficial

@INDONESIAComment

ICTV Televisi Inspirasi Indonesia

THE WAWAN KUSWANDI INSTITUTE

Deenwawan.Photogallery.Com

Foto: Ist

Ngabuburit Jelang Berbuka Puasa, Perlukah? [puasa hari ke-11]

Apakah ngabuburit mengandung nilai ibadah dan perlukah ngabuburit? Jawabannya bisa ya, bisa juga tidak. Semua tergantung dari bagaimana umat muslim melakukan ngabuburit ketika menanti waktu berbuka puasa.

Saat-saat menjelang berbuka puasa merupakan waktu paling istimewa bagi umat muslim yang sedang menunaikan ibadah puasa, baik puasa sunnah maupun wajib (Ramadhan). Mengapa istimewa?

Pertama , umat muslim hampir mencapai puncak puasa fisik (dari pagi hingga memasuki malam hari).

Kedua , umat muslim mempunyai waktu terbaik untuk berdo’a usai sholat Ashar, khususnya pada hari Jum’at (hadits Abdullah bin Salam). Keberkahan lain saat berbuka ialah dikabulkannya do’a orang yang berpuasa, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Ada tiga do’a yang tidak tertolak. Do’anya orang yang berpuasa ketika berbuka, do’anya pemimpin yang adil dan do’anya orang yang terzhalimi” (HR Tirmidzi 2528, dishahihkan Al Albani). Usai berbuka, umat muslim juga masih bisa berdo’a kepada Allah SWT, memohon ridhoNya atas puasa yang telah ditunaikan.

Ketiga , umat muslim mempunyai kesempatan bersedekah kepada fakir miskin dan anak-anak yatim piatu dengan cara memberikan makanan dan minuman pembuka puasa.

Keempat , umat muslim bisa merefleksi diri atas perjalanan ibadahnya (dari pagi sampai malam), saat berpuasa.

Kelima , ngabuburit dapat dilakukan dengan cara mendengarkan ceramah agama, berzikir dan membaca Al-Qur’an. Dalam konteks lima poin di atas, ngabuburit jelas mengandung nilai ibadah dan perlu.

Lantas, bagaimana dengan ngabuburit yang tidak bernilai ibadah? Jawabannya sangat mudah yaitu:

Pertama , umat muslim tidak menyegera saat tiba waktu berbuka karena berada di jalan untuk berburu kuliner.

Kedua , umat muslim berjalan-jalan menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan modern atau pasar tradisional.

Ketiga , ngobrol bersama teman-teman, baik secara langsung maupun melalui media sosial yang mungkin bisa mencemarkan ibadah puasa.

Keempat ,  umat muslim yang dalam melakukan ngabuburitnya mengganggu kenyamanan orang lain. Misalnya, main petasan atau balapan motor liar di jalanan.

Kelima , menonton acara televisi yang hanya bersifat hiburan semata, tanpa ada manfaatnya untuk ibadah puasa, termasuk perbuatan yang mungkin bisa mencemarkan ibadah puasa.

Rasulullah SAW bersabda, ”Betapa banyak orang yang berpuasa, namun mereka (hanya) mendapatkan lapar dan dahaga” (HR Ahmad).

Islam tidak mengenal ngabuburit. Kalaupun aktivitas ngabuburit masih berlangsung hingga hari ini, itu hanya bentuk kebudayaan Indonesia. Sekarang, mana yang Anda pilih, melakukan ngabuburit yang mengandung nilai ibadah atau tidak? Wassalam...

Selamat berbuka puasa bro...[ Wawan Kuswandi ]

LIHAT JUGA:

Indocomm.Blogspot.Co.Identification

www.Facebook.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

@wawan_kuswandi

@INDONESIAComment

Deenwawan.Photogallery.Com

Foto: ist

Antara Bicara & Do’a [puasa hari ke-10]

Berbicara, topiknya bisa ngalor-ngidul. Sedangkan berdo’a merupakan proses komunikasi lahir dan bathin antara manusia dengan Tuhan. Jadi, antara berbicara dan berdo’a sangat jauh berbeda.

baru-baru ini, dalam ceramah sholat Jum’at saya mendapat pencerahan dari khotif tentang dimensi kata bicara dan do’a.

Betapa shocknya saya, ketika khotif mengatakan bahwa berbicara dan berdo’a hampir 100 persen sama maknanya. “Sebagai umat muslim, kita wajib hati-hati dalam berbicara karena berbicara itu mengandung do’a. Ada malaikat di sekitar kita yang mencatat semua pembicaraan kita,’’ ungkap khotif.

Sebenarnya, apa yang dikatakan khotif diatas bukanlah hal baru. Tiga hari yang lalu, Akbar, teman saya di kantor pernah berkata “Siapapun kita, sebaiknya kalau berbicara jangan sembarangan. Soalnya berbicara itu do’a,” ucapnya nyantai.

Saya tidak menggubrisnya. Perkataan Akbar menjadi luar biasa karena khotif sholat Jum’at mengatakan hal serupa. Jadi kesimpulannya, kalau saya berbicara yang baik-baik, maka saya sudah berdoa untuk kebaikan diri saya sendiri dan orang lain. Tapi, Kalau saya berbicara yang buruk-buruk, maka saya sudah berdoa untuk keburukan diri saya sendiri dan orang lain.

Dengan kata lain, obrolan atau berbicara bisa menjadi do’a. Lantas, kalau sebuah perkataan itu adalah do’a, apakah Tuhan akan mengabulkannya? Bisa ya, bisa juga tidak. Itu hak mutlak Tuhan. Dalam dimensi yang lebih luas, berbicara bukan hanya sekadar mengumbar kata-kata secara lisan, tetapi juga bisa tersaji melalui sebuah tulisan.

Mengingat pentingnya makna berbicara dan berdo’a, saya mulai berhati-hati bila berbicara dengan siapapun (tanpa kecuali). Saya berusaha belajar menahan diri dalam berucap, terutama ketika emosi sedang tidak stabil. Saya juga mulai mengurangi tutur kata berlebihan saat sedang bersendau-gurau dengan keluarga atau teman-teman. Saya masih ingat pepatah yang diajarkan guru bahasa Indonesia di kelas lima SD, ‘mulutmu harimaumu’. Saya pikir, pepatah itu masih sangat relevan hingga sekarang.

Munculnya konflik dalam pergaulan sosial, ternyata banyak disebabkan oleh obrolan, ucapan atau pembicaraan yang pada awalnya hanya bersifat gurauan semata. Namun, lambat laun bila gurauan itu berlebihan, mungkin saja direspon secara negatif oleh orang-orang yang terlibat dalam perbincangan. Semoga saja semua perkataan atau pembicaraan yang keluar dari saya dan Anda selalu yang baik-baik saja agar melahirkan kebaikan antarsesama. Wassalam...

Selamat berbuka puasa bro...[ Wawan Kuswandi ]

LIHAT JUGA:

Indocomm.blogspot.co.id

www.facebook.com/INDONESIAComment/

plus.google.com/+INDONESIAComment

@wawan_kuswandi

@INDONESIAComment

Deenwawan.photogallery.com

foto: Isrtimewa

Wednesday, July 1, 2020

Mukjizat Malam Lailatul Qadar [puasa hari ke-22]

Allah Ta ‘ala berfirman, “Sesunguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (QS Al Qadr:1-5-97).

Sebagian besar ulama Indonesia memiliki pendapat berbeda tentang definisi ?Malam kemuliaan? Lailatul Qadar. Namun, mereka sepakat bahwa hal itu berkaitan erat dengan adanya perubahan atau pengaturan ketetapan Allah Ta?Ala tentang takdir yang menyangkut hidup dan mati serta pelimpahan rezeki yang akan diterima manusia.

Dalam pandangan saya, semua umat muslim pasti akan mendapatkan malam Lailatul Qadar, bila sejak awal puasa Ramadhan hingga Idul Fitri tak pernah meninggalkan ibadah wajib dan sunah. Namun, hanya orang-orang yang bersungguh-sungguh beriman dan bertaqwalah (dalam ibadahnya) yang akan mendapatkan kemuliaan Lailatul Qadar. Bagaimana bentuk kemuliaan itu? Hanya Allah SWT yang tahu.

Ibnu Hajar Al Asqolani Rahimahullah mengatakan, ada sekitar empat puluh pendapat berbeda dari para ulama tentang terjadinya Lailatul Qadar. Ada yang mengatakan tanggal ganjil. Ada juga yang berpendapat tanggal genap. Itu semua tergantung dari umat muslim ketika mengawali puasa Ramadhannya. Banyaknya perbedaan inilah yang pada akhirnya membuat sebagian umat muslim melakukan i’tikaf di masjid. Rasulullah SAW bersabda, “Carilah Lailatul Qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan” (HR Bukhari no. 2017).

Sebagian besar ulama juga berbeda pendapat tentang tanda-tanda Lailatul Qadar. Misalnya, ada yang berpendapat bahwa Lailatul Qadar ditandai dengan suasana pagi yang tenang dan damai, cahaya matahari yang cerah, tetapi tidak panas serta malam yang terang benderang. Bahkan, ada sebagian ulama menyebutkan, ciri-ciri orang yang mendapatkan Lailatul Qadar diantaranya ialah dia bisa melihat seluruh benda dan makhluk di muka bumi bersujud kepada Allah SWT. Tapi, ada juga yang mengatakan bahwa orang yang mendapatkan Lailatul Qadar tidak diisyaratkan melihat tanda apapun. Sekali lagi, hanya Allah SWT yang Maha Tahu.

Bagi saya, hal utama yang paling penting ialah umat muslim dalam melaksanakan ibadahnya bukan hanya sekadar mengejar atau menunggu kapan datangnya malam Lailatul Qadar. Mungkin akan lebih baik, bila saya dan Anda terus beribadah secara sungguh-sungguh dengan kejernihan hati, ketulusan jiwa dan pikiran serta keikhlasan untuk memperkokoh iman dan taqwa kita kepada Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari. Apakah saya dan Anda akan mendapatkan kemuliaan malam Lailatul Qadar? Sepenuhnya kita berserah kepadaNya. Kemuliaan Lailatul Qadar adalah hak Allah SWT. Dialah yang akan menetapkan siapa saja orang-orang beriman yang berhak mendapatkan kemuliaan Lailatul Qadar. Wassalam....

Selamat berbuka puasa bro...[ Wawan Kuswandi ]

LIHAT JUGA:

Indocomm.Blogspot.Co.Identity

www.Fb.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

@wawan_kuswandi

#INDONESIAComment

@wawankuswandi

@indonesiacommentofficial

ICTV Televisi Inspirasi Indonesia

THE WAWAN KUSWANDI INSTITUTE

Deenwawan.Photogallery.Com

Foto: Ist

Tuesday, June 30, 2020

Zakat Fitrah Wujud Mensyukuri Nikmat Allah SWT [puasa hari ke-27]

Zakat fitrah menjadi penutup ?Manis? Dari rangkaian ibadah Ramadhan untuk menuju kemenangan hari raya Idul fitri. Zakat fitrah ditunaikan kaum muslim yang mempunyai kelebihan nafkah dan rezeki.

Dari Ibnu Abbas RA, dia mengatakan, “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata kotor serta sebagai pemberian makanan bagi orang-orang miskin. Maka barangsiapa menunaikannya sebelum shalat (Ied), maka itu zakat yang diterima. Dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat Ied, maka itu hanya sekadar sedekah dari sedekah-sedekah yang ada” (Hasan, HR Abu Dawud Kita buz Zakat Bab Zakatul Fithr, 17 no. 1609, Ibnu Majah, 2/395 Kita buz Zakat Bab Shadaqah Fithri, 21 no. 1827, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud).

Kewajiban zakat fitrah berlaku bagi kaum muslim, baik untuk orang dewasa, anak-anak, laki-laki ataupun perempuan dan orang-orang merdeka maupun budak. Dalam pelaksanaannya, zakat fitrah harus mengikuti perintah Allah SWT. Sebagian ulama mengatakan bahwa pelaksanaan kewajiban zakat fitrah setelah selesainya bulan Ramadhan. Namun, Rasulullah SAW menerangkan bahwa waktu pengeluaran zakat fitrah itu harus sebelum sholat Ied. Atas dasar itulah, sebaiknya zakat fitrah diserahkan ke tangan fakir sebelum Sholat Ied.

Adapun diwajibkannya zakat fitrah ini karena tiga hal yaitu, pembayar zakat adalah seorang muslim (Islam), dilakukan saat terbenam matahari dan akhir bulan Ramadhan. Efek sosiologis zakat fitrah ialah adanya rasa kebersamaan dan kepedulian antarsesama umat manusia.

Zakat fitrah melahirkan bentuk kepedulian sosial yang bernilai ibadah bagi seseorang. Diriwayatkan dari Hisyam bin urwah dari ayahnya Abu Hurairah RA dari Nabi SAW bersabda, ”Tangan di atas (memberi dan menolong) lebih baik daripada tangan dibawah (meminta-minta), mulailah orang yang menjadi tanggunganmu (keluarga dll) dan sebaik-baik shadaqah adalah yang dikeluarkan dari kelebihan kekayaan (yang diperlukan oleh keluarga)” (HR Al Bukhary dan Ahmad).

Hikmah disyari?Atkannya zakat fitrah ialah rasa syukur umat muslim kepada Allah SWT karena mereka masih diberi kesempatan untuk merasakan nikmatnya berbagi antarsesama dalam kesucian ibadah Ramadhan. Wassalam...

Selamat berbuka puasa bro... [ Wawan Kuswandi ]

LIHAT JUGA:

Indocomm.Blogspot.Co.Id

www.Facebook.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

@wawan_kuswandi

#INDONESIAComment

@wawankuswandi

@indonesiacommentofficial

ICTV Televisi Inspirasi Indonesia

THE WAWAN KUSWANDI INSTITUTE

Deenwawan.Photogallery.Com

Foto: Ist

Menyayangi Hewan dan Al Baqarah 2:164 [puasa hari ke-12]

Lezatnya daging hewan-hewan ciptaanNya, ternyata bukan hanya sebatas nikmat di mulut saja, hewan juga bisa memberikan ?Kenikmatan? Bagi manusia, baik di dunia maupun akherat.

Sore ini saya berniat mampir ke kedai mpok Dijah di kawasan Glodok, Jakarta Kota untuk berbuka puasa. Sudah lama sekali saya nggak makan ayam goreng. Kedai mpok Dijah sangat terkenal dengan kelezatan ayam gorengnya. Saya adalah salah satu dari sekian juta orang di Jakarta yang ‘gila’ makan ayam goreng.

Allah SWT pasti punya alasan kuat ketika menciptakan alam semesta beserta isinya. Salah satu contohnya ialah hewan ayam yang bisa diolah menjadi ayam goreng, ayam opor, ayam penyet, ayam keremes, ayam Kentucky atau ayam bakar. Semua benda bernyawa maupun yang tak bernyawa hasil ciptaan Allah SWT, tentu mempunyai berkah bagi kehidupan makhluk hidup di jagat raya yang mungkin saja bisa mengantarkan manusia menerima rahmatNya.

Saya jadi teringat firman Allah SWT yang berbunyi, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit & bumi, silih bergantinya malam & siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah SWT turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu, Dia hidupkan bumi sesudah mati (keringnya) dan Dia sebarkan di bumi segala jenis hewan dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit & bumi. Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan & kebesaran Allah SWT) bagi kaum yang memikirkan” (QS. Al Baqarah 2:164).

Dalam pandangan saya, makna Keesaan & Kebesaran Allah SWT (QS. Al Baqarah 2:164) diatas merupakan peringatan bagi manusia untuk berpikir atas seluruh benda ciptaanNya. Manusia diwajibkan untuk menyayangi seluruh makhluk ciptaanNya. Allah SWT juga telah menunjukkan sifat kasih sayangNya dalam Surat Hud ayat 36-38 yang mengisahkan tentang hukumanNya kepada umat Nabi Nuh dengan mendatangkan banjir. Allah SWT memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat perahu dan membawa sejumlah satwa secara berpasang-pasangan.

Dalam sebuah riwayat, guru ngaji saya pernah bercerita yaitu ketika Nabi Muhammad SAW memasuki Kota Makkah setelah menaklukkan tentara Quraisy, beliau memerintahkan pengikutnya untuk tidak membunuh satwa apapun yang ada di kota suci itu. "Pada setiap yang mempunyai hati yang basah (hewan) itu terdapat pahala (dalam berbuat baik kepadaNya)" (HR Al-Bukhari:2363).

Lantas bagaimana dengan sikap dan perilaku manusia yang suka menganiaya hewan? Nabi Muhammad SAW bersabda, "Seorang perempuan masuk neraka karena tidak memberi makan dan minum seekor kucing yang berada dalam kurungannya" (HR Al-Bukhari:3482).

Kewajiban manusia menyayangi hewan juga terungkap dalam kajian ilmiah yang ditulis Bill Devall (Januari, 2001) dalam bukunya ‘Deep Ecology:Living as if Nature Mattered’. Devall menyatakan bahwa manusia harus melindungi hewan karena hewan merupakan mata rantai ekosistem kehidupan di muka bumi.

Seluruh makhluk hidup yang ada di alam semesta wajib saling saling-menyayangi. Apabila ada manusia yang suka melakukan penganiayaan terhadap hewan, mereka layak disebut Iblis. Bahkan, kekejian manusia dalam menganiaya hewan melebihi kekejaman Iblis ketika menggoda manusia.

Hal berbeda justru ditunjukkan sejumlah hewan peliharaan kepada manusia. Para hewan itu menjadi sahabat setia ‘lahir dan bathin’ manusia dalam keadaan apapun. Menurut Anda, mana yang lebih berperikemanusiaan, hewan atau manusia? Saya percaya, Allah SWT akan menunjukkan ‘kuasaNya’ kepada siapapun yang suka melakukan ‘penganiayaan’ terhadap semua makhluk hidup ciptaanNya di alam semesta.

Waktu menunjukkan pukul lima seperempat sore, adzan Maghrib sebentar lagi mengumandang. Saya langsung tancap gas, meluncur menuju kedai mpok Dijah, bersiap-siap untuk berbuka puasa dengan ayam goreng, sedap bro...

Selamat berbuka puasa bro...[ Wawan Kuswandi ]

LIHAT JUGA:

Indocomm.blogspot.co.id

www.facebook.com/INDONESIAComment/

plus.google.com/+INDONESIAComment

@wawan_kuswandi

@INDONESIAComment

Deenwawan.photogallery.com

Foto: Istimewa

Nikmat Malam Takbiran, Momentum Puncak Berdzikir [puasa hari ke-29]

Malam takbiran merupakan pertanda bahwa seluruh rangkaian ibadah puasa Ramadhan telah berakhir. Selanjutnya, umat muslim bersiap merayakan hari raya Idul Fitri. Di malam takbiran terdengar kumandang lafadz dzikir kalimat takbir, tasbih, tahlil dan tahmid mengagungkan nama Allah SWT yang dilantunkan secara berulang-ulang.

Allah Ta’ala berfirman, “…dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS Al Baqarah:185).

Tradisi merayakan malam takbiran di Indonesia dilakukan dengan berbagai macam cara mulai dari takbir keliling, takbir berjamaah di masjid dan mushola sampai dengan takbir di rumah bersama keluarga. Gema takbir juga berkumandang dalam siaran televisi, radio, YouTube dan sejumlah media sosial lainnya dengan model lantunan lafadz dzikir yang bervariasi.

Dalam melantunkan lafadz dzikir (takbir, tasbih, tahlil dan tahmid), terkandung makna mengagungkan kebesaran Allah Azza Wajalla. Bertakbir adalah bentuk rasa syukur umat muslim kepadaNya atas nikmat ibadah Ramadhan.

Allah SWT berfirman, “…hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (puasa) dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjukNya yang diberikan kepadamu” (QS Al Baqarah:185). Ayat ini menjelaskan bahwa setelah selesai menjalankan ibadah Ramadhan, maka dianjurkan untuk mengagungkan Allah SWT dengan bertakbir.

Rasulullah SAW bersabda, “Setiap kalimat tasbih adalah sedekah, takbir adalah sedekah, tahmid adalah sedekah dan tahlil adalah sedekah” (HR Muslim). Sesungguhnya puncak ibadah Ramadhan adalah mengagungkan Allah Ta’ala dengan lantunan dzikir berulang-ulang agar umat muslim semakin taqwa kepadaNya. Wassalam…

Selamat berbuka puasa bro... [ Wawan Kuswandi ]

LIHAT JUGA:

Indocomm.Blogspot.Co.Id

www.Facebook.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

@wawan_kuswandi

#INDONESIAComment

@wawankuswandi

@indonesiacommentofficial

ICTV Televisi Inspirasi Indonesia

THE WAWAN KUSWANDI INSTITUTE

Deenwawan.Photogallery.Com

Foto: Ist

Sunday, June 21, 2020

Rahasia Allah SWT di Malam Lailatul Qadar (puasa hari ke-21)

Malam lailatul qadar adalah malam yang sangat penting dan ditunggu-tunggu umat muslim di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Para tokoh agama di berbagai penjuru dunia, masih berbeda pendapat tentang makna dan tanda-tanda malam lailatul qadar. Namun, umumnya mereka berpendapat sama bahwa malam lailatul qadar adalah malam yang paling dimuliakan Allah SWT diantara malam-malam lainnya dan itu terus menjadi rahasiaNya.

Malam Lailatul qadar digambarkan sebagai malam yang lebih mulia dari seribu bulan serta merupakan malam turunnya Al Qur?An. Dengan merujuk dan mengartikan kata qadar sebagai kemuliaan, maka malam lailatul qadar adalah malam yang mulia karena di malam itulah Allah SWT menurunkan Al Qur?An.

Berdasarkan pengertian diatas itulah, maka seluruh umat muslim pada saat ramadhan meningkatkan ibadahnya, terutama saat malam hari dengan harapan ibadah mereka mendapatkan kemuliaan dari Allah SWT.

Malam lailatul qadar selamanya akan menjadi rahasia Allah SWT. Sebagai umat muslim, sudah sewajibnya kita berserah diri kepadaNya dalam melaksanakan ibadah dengan tulus dan ikhlas, terlebih lagi saat bulan ramadhan.

Menurut keterangan Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam kitab Fathul-Bari, beberapa ulama berpendapat bahwa malam lailatul qadar sebenarnya hanyalah satu kali saja yaitu ketika Al Qur?An mulai pertama turun. Adapun malam lailatul qadar yang selalu diperingati saat ramadhan bertujuan agar umat muslim terus memperbanyak ibadah pada setiap malam ramadhan.

Setiap malam ramadhan, umat muslim dianjurkan untuk memperbanyak rasa syukur kepada Allah SWT karena bertetapan dengan malam itulah Al Qur?An diturunkan Allah SWT. Wassalam ...

Selamat berbuka puasa bro ... [ Wawan Kuswandi ]

LIHAT JUGA:

Indocomm.Blogspot.Co.Id

www.Fb.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

@wawan_kuswandi

#INDONESIAComment

@wawankuswandi

@indonesiacommentofficial

ICTV Televisi Inspirasi Indonesia

THE WAWAN KUSWANDI INSTITUTE

Deenwawan.Photogallery.Com

Foto: Ist

Tuesday, June 9, 2020

Demi Waktu dan Bulan Ramadhan (puasa hari ke-23)

Waktu adalah bagian terpenting dalam kehidupan manusia, terlebih lagi saat bulan ramadhan.

TakdirNnya sudah menunjuk waktu sebagai penentu atas apa-apa yang terjadi di jagat raya. Disadari atau tidak semua makhluk hidup berada dalam genggaman waktu. Waktulah yang menentukan jalan hidup manusia sampai akhir zaman. Waktu dalam pandangan Imam Ali bin Abi Thalib AS yang tertuang dalam kata mutiara ke 21 Nahjul Balaghah menyebutkan, ‘Kesempatan berlalu laksana awan, oleh karena itu kejarlah kesempatan-kesempatan baik.’

Waktu dalam tafsir Imam Ali AS adalah nikmat zatNya yang sangat mulia untuk manusia, tetapi sangat singkat kehadirannya. Saking cepatnya proses perjalanan waktu, Imam Ali menganalogikan waktu seperti awan-awan di langit yang cepat berlalu. Waktu hanya mampir sebentar dalam kehidupan. Tingginya derajat waktu wajib diapresiasi manusia dalam bentuk bersikap dan berperilaku baik terhadap seluruh CiptaanNya di jagat raya. Waktu atau masa sungguh sangat bernilai dibandingkan dengan apapun yang ada di muka bumi.

Waktu adalah mukjizatNya untuk manusia. Begitu pentingnya waktu, Allah SWT sampai bersumpah “Demi Masa! Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh dan mereka pula berpesan-pesan dengan kebenaran serta berpesan-pesan dengan kesabaran"(Surah Al-Asr Ayat 1-3).

Filsuf Jerman Immanuel Kant menandaskan, waktu adalah bagian dari akal budi manusia. Ia tidak berada di alam melainkan di dalam pikiran manusia. Pada awal abad 20, ahli filsafat barat banyak menggali tentang waktu dari para filsuf timur, terutama dalam tradisi taoisme dan buddhisme yang berkembang di Cina dan India. Dalam filsafat timur, waktu dilihat sebagai persepsi manusia. Pandangan ini sudah lama mengakar dalam tradisi Cina dan India. Waktu tak bisa dilepaskan dari pikiran manusia. Jadi, waktulah penentu jalan hidup manusia.

Saat ini, mungkin sebagian besar dari kita telah menyia-nyiakan waktu. Manusia mengendalikan waktu dengan seenaknya. Sifat-sifat individualistik manusia dalam merekayasa waktu tercermin dari pernyataannya yang menyepelekan waktu seperti buang waktu, mengulur waktu, mengatur waktu, manajemen waktu, belum waktunya, sudah waktunya, tawar-menawar waktu, bermain waktu, dan semua kalimat dan kata yang merendahkan ekistensi waktu.

Di sisi lain, waktu sudah mendapat mandat kuasa dari Allah SWT untuk menurunkan takdirNya tentang apa yang akan terjadi di jagat raya. Ketika waktu sudah memutuskan, maka manusia dan makhluk apapun yang ada di alam semesta tak bisa lagi melawan waktu. Waktu punya hak penuh untuk bertindak seketika. Kalau waktu sudah jatuh tempo, maka sujud manusia sudah tak berarti lagi. Yuk kita isi bulan ramadhan ini dengan kegiatan yang mengandung nilai ibadah. Wassalam?

Selamat berbuka puasa bro... [ Wawan Kuswandi ]

LIHAT JUGA:

Indocomm.Blogspot.Co.Id

www.Fb.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

@wawan_kuswandi

#INDONESIAComment

@wawankuswandi

@indonesiacommentofficial

ICTV Televisi Inspirasi Indonesia

THE WAWAN KUSWANDI INSTITUTE

Deenwawan.Photogallery.Com

Foto: Ist