Sunday, August 9, 2020

Makna Sosial Silaturahim [puasa hari ke-26]

Silaturahim bukan hanya tatap muka atau temu kangen dengan keluarga dan teman-teman. Silaturahim mengandung makna humanis yang mungkin saja bisa membawa hidup kita menjadi lebih baik dari sebelumnya. Kata silaturahmi dan silaturahim sangat popular di Indonesia. Dua kata itu bukan hanya milik umat islam, tetapi hampir sebagian besar penganut agama lain pun ikut menggunakan dua kata yang penuh makna itu dalam kehidupan sehari-hari.

Kata silaturahmi dan silaturahim sudah menjadi simbol budaya masyarakat Indonesia, baik dalam tatanan komunikasi sosial maupun komunikasi non-public. Secara umum kata silaturahmi dan silaturahim di negeri garuda ini lebih banyak diartikan sebagai saling kunjung-mengunjungi kepada sanak saudara, bertamu ke rumah teman atau pulang kampung bertemu orang tua dan keluarga saat hari raya keagamaan. Dalam konteks ini, kata silaturahmi dan silaturahim diterjemahkan sebagai bentuk komunikasi tatap muka atau komunikasi langsung.

Sebenarnya ada perbedaan sangat mendasar antara kata silaturahmi dan silaturahim. Silaturahmi berasal dari dua kata yaitu silah yang artinya menyambungkan dan rahmi yang mengandung arti rasa nyeri yang diderita seorang ibu ketika melahirkan. Itu sebabnya kebencian, kedengkian dan konflik masih terus terjadi di Indonesia walaupun silaturahmi sudah terjalin. Mengapa? Karena yang kita pakai adalah kata silaturahmi yang berarti menyambung rasa nyeri.

Sedangkan kata silaturahim berasal dari kata silah yang artinya menyambungkan dan rahim berarti kekerabatan. Jadi silaturahim ialah menyambung kekerabatan diantara sesama makhluk hidup ciptaanNya.

Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda, “Belajarlah dari nasab kalian yang dapat membantu untuk silaturahim karena silaturahim itu dapat membawa kecintaan dalam keluarga dan memperbanyak harta serta memperpanjang umur”.

Dalam konteks sosial, masyarakat Indonesia seringkali menjadikan ajang silaturahim sebagai bentuk pamer harta dan benda (ketika berkunjung ke rumah sanak saudara memakai perhiasan mewah dan membawa oleh-oleh yang berlebihan). Terkadang dalam prosesnya, silaturahim juga dijadikan sarana untuk membicarakan hal-hal yang bersifat kabar burung (gosif) atau mencari dukungan massa dalam aktivitas politik (pilkada atau pilpres).

Sebenarnya, makna silaturahim ialah saling mendo?Akan, saling menolong, saling berbagi rezeki, saling mengingatkan dan selalu memberi kebaikan antar sesama makhluk ciptaan Tuhan. Sudahkah kita melakukan silaturahim dengan baik dan benar? Wassalam...

Selamat berbuka puasa bro...[ Wawan Kuswandi ]

Indocomm.Blogspot.Co.Identification

www.Fb.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

@wawan_kuswandi

#INDONESIAComment

@wawankuswandi

@indonesiacommentofficial

ICTV Televisi Inspirasi Indonesia

THE WAWAN KUSWANDI INSTITUTE

Deenwawan.Photogallery.Com

Foto: Ist

Saturday, August 8, 2020

Tuhan & Do’a [OPINI]

Ada sebuah kontak  bathin yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah  ketika manusia memanjatkan do’a. Antara do’a dan Tuhan ada batas tipis yang sulit dijabarkan dengan berbagai teori ilmu pengetahuan apapun. Siapapun Anda,  pasti mengenal yang namanya Do’a. Dalam ritual ibadah agama apapun,  do’a memainkan peran  sangat penting. Do’a merupakan proses komunikasi khusus yang dilakukan seseorang atau sekelompok massa kepada Tuhan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam do’a ada kejujuran, ada kekhusyuan, ada ketulusan, ada keikhlasan, ada kepasrahan, ada ketenangan, ada kesyukuran, ada kedamaian.

Seluruh manusia (tanpa kecuali) di jagat raya percaya dan meyakini bahwa do’a adalah cara terbaik untuk mendapatkan solusi atas segala persoalan hidup. Berdo’a juga menjadi  media untuk menyampaikan keinginan pribadi maupun kelompok  kepada Tuhan. Do’a  mencerminkan betapa ‘kecilnya’ manusia dihadapan Tuhan.

Akhir-akhir ini, disadari atau tidak,  manusia telah menjadikan do’a sebagai alat untuk mengungkapkan keluhan, kekecewaan, kemarahan dan ketidakpuasan atas berbagai  keputusan  yang sudah digariskanNya.  Terkadang,  do’a didramatisir oleh sebagian besar penganut agama tertentu melalui sebuah gerakan massa. Contohnya ialah do’a bersama di lapangan atau di tempat ibadah yang melibatkan ratusan orang  dan  dikordinir oleh ormas dan beberapa tokoh  agama. Do’a  pun berubah menjadi aktivitas  unjuk massa, unjuk kekuatan, unjuk kekuasaan, unjuk eksklusivitas dan  aneka kepentingan terselubung lainnya.

Dalam praktiknya, antara berdo’a yang   tulus dan ikhlas dengan berdoa yang didasari oleh ketidakpuasan manusia sangat berbeda jauh. Berdo’a karena didasari oleh ketidakpuasan lebih memperlihatkan kepentingan duniawi sehingga do’a yang dipanjatkan  panjang lebar dan menghabiskan banyak waktu.  Pada umumnya, isi  do’anya juga berupa permintaan kepada Tuhan yang beraneka macam.

Dalam perspektif berbeda, do’a yang dipanjatkan seseorang dengan tulus dan ikhlas merupakan proses berserah diri manusia kepadaNya,  karena Dia Maha Tahu atas apa yang dirasakan  dan dibutuhkan manusia. Jadi, do’a itu tidak harus  berpanjang-panjang kata dan bukan melulu menuntut kepentingan duniawi.

Menurut saya, do’a yang kita panjatkan kepadaNya harus to the point (singkat, jelas dan fokus). Disinilah makna sesungguhnya  dari  do’a. Sebenarnya,  Intisari do’a adalah  hubungan  komunikasi bathin manusia dengan  Tuhan sebagai bentuk rasa syukur atas semua takdir yang diturunkanNya. Efek dahsyat dari  do’a ialah  rasa keimanan dan ketaqwaan manusia kepadaNya akan semakin meningkat. [Wawan Kuswandi]

www.facebook.com/INDONESIAComment/

plus.google.com/+INDONESIAComment

#INDONESIAComment

Deenwawan.photogallery.com

Lawan Arogansi Kekuasaan [OPINI]

Siapapun di negeri ini yang bertindak arogan,  semena-mena, melanggar UU, melakukan korupsi dan menindas rakyat dengan menggunakan  kekuasaan atau jabatannya wajib dilawan. Namun, perlawanan  itu harus dilakukan dengan cara-cara beradab, etis dan damai. Sedikitnya ada tiga lembaga tinggi negara yang seringkali melakukan perilaku arogan terhadap masyarakat. Ketiga lembaga itu adalah legislatif (anggota parlemen), eksekutif  (pemerintah) dan yudikatif (lembaga-lembaga hukum). Dari ketiga lembaga itu, rata-rata sebagian besar  oknumnya, baik secara individual maupun berjamaah terus-menerus bertindak arogan.

Salah satu bentuk arogansi oknum parlemen ialah perilaku ‘premanisme’ yang merencanakan membuat pansus angket terhadap KPK. Sejumlah oknum parlemen diduga kuat ingin menghancurkan KPK dengan cara-cara yang tidak etis dengan mengatasnamakan ‘audit’ kinerja KPK. Seperti diketahui,  akhir-akhir ini KPK ganas melakukan OTT terhadap siapapun pejabat negara dan korporasi yang melakukan korupsi terhadap keuangan negara.

Sebelumnya, perilaku arogan sejumlah oknum anggota parlemen banyak dilakukan dengan cara-cara  menyalahgunakan jabatan dan  tindak kekerasan fisik. Sejak rezim HM. Soeharto hingga Jokowi, segelintir oknum anggota parlemen acapkali bertindak arogan, baik secara sembunyi-sembunyi  maupun transparan. Sebagian telah ditangkap aparat hukum. Sebagian lagi masih dalam pemantauan dan pengumpulan alat bukti.

Oknum-oknum di lembaga eksekutif juga tak mau kalah  dengan  oknum  anggota parlemen di Senayan. Beberapa oknum menteri ikut menggerogoti kekayaan negara. Bahkan, dengan jabatan dan kekuasaanya mereka juga melakukan tindak pemerasan, pengancaman, pelecehan seks dan korupsi. Contoh kongkretnya ialah mantan menteri Agama Suryadharma Ali,  mantan menteri ESDM, Jero Wacik dan  mantan menteri Kesehatan  dr. Siti Fadilah Supari dan masih banyak lagi menteri-menteri lainnya yang diduga kuat korupsi berada dalam radar KPK.

Hal yang sama juga dilakoni oknum-oknum yang berkiprah di lembaga yudikatif. Sekelompok oknum polisi,  jaksa dan hakim gemar jual beli kasus hukum. Contoh spektakuler yang mengguncang publik diantaranya ialah jual-beli kasus yang dilakukan mantan ketua MK Akil Mochtar. Sejumlah oknum polisi  juga acapkali melakukan tindakan arogan terhadap rakyat. Misalnya melakukan aksi kekerasan fisik  kepada para pengunjuk rasa.  Sebagian besar oknum polisi di republik ini juga masih  pilih kasih dalam menangani  kasus kriminal sosial.

Melihat fenomena sikap dan perilaku para pemangku kekuasaan di Indonesia yang semakin arogan dan tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat, maka sudah selayaknya rakyat melawan. [Wawan Kuswandi]

www.Facebook.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

#INDONESIAComment

Deenwawan.Photogallery.Com

Bobroknya Mentalitas Pengendara [OPINI]

Mana yang Anda pilih,  naik kendaraan (mobil atau motor) pribadi atau naik angkutan umum massal? Jawabannya terserah Anda. Kalau saya lebih memilih naik angkutan umum yang bersifat personal dan khusus seperti taksi online. Harganya memang sedikit mahal, tetapi nyaman. Setiap hari kecelakaan lalu lintas terjadi di Jalan raya. Penyebab  kecelakaan juga bervariasi. Namun,  secara umum faktor penyebab terjadinya kecelakaan lalu lintas lebih didominasi oleh bobroknya sebagian besar mentalitas pengendara di jalan raya.

Data Kepolisian Republik Indonesia menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2015 lalu jumlah korban meninggal akibat kecelakaan lalu lintas di Indonesia mencapai 31.234 jiwa. World Health Organization (WHO) PBB memprediksikan, pada tahun  2030 kecelakaan lalu lintas bisa menjadi penyebab kematian terbesar nomor lima di dunia.

Mentalitas bobrok  bukan hanya milik pengendara, tetapi  juga segelintir oknum aparat polantas yang masih ‘menikmati’  pungli dan perilaku arogan di jalan raya.  Disisi lain, jumlah pengendara yang tidak disiplin semakin tinggi. Kendaraan umum yang tidak layak pakai pun semakin membludak.  Rambu-rambu lalu lintas banyak yang tidak proporsional penempatannya.

Terus terang, saya lebih baik menyimpan kendaraan pribadi saya di garasi rumah daripada tergores oleh senggolan kendaraan lain di jalan raya. Bahkan, saya lebih suka memakai jasa driver saat menggunakan  mobil pribadi. Hal itu saya lakukan karena banyak dampak positifnya, diantaranya ialah kendaraan (mobil/motor) saya tetap mulus, perjalanan jadi  nyaman dan aman, bisa tidur sejenak atau melakukan aktivitas seperti membaca selama perjalanan dan terhindar dari perasaan emosi terhadap sesama pengendara lain.

Seperti tertuang dalam Decade of Action for Road Safety PBB  Tahun 2010 lalu, seharusnya pemerintah Indonesia sudah menerapkan keamanan dan kenyamanan angkutan  umum sebagai alat transportasi massal. Hal ini sesuai dengan Pasal 203 UU No. 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan  yang berbunyi ‘Pemerintah bertanggung jawab atas terjaminya keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan.’

Lantas pertanyaannya ialah apakah pemerintah sudah bertanggungjawab terhadap keamanan, keselamatan dan kenyamanan konsumen pengguna transportasi massal? Secara pribadi, saya tidak terlalu banyak berharap soal kenyamanan, keselamatan dan keamanan berkendara di Jalanan, kalau sebagian besar mentalitas pengendaranya sudah bobrok. Namun, saya punya mimpi sederhana yang mungkin juga teramat sulit untuk diwujudkan yaitu kapan alat transportasi publik di Indonesia nyaman dan menjadi idola masyarakat? [Wawan Kuswandi]

www.Fb.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

#INDONESIAComment

Deenwawan.Photogallery.Com

Friday, August 7, 2020

Bisikan Hati [OPINI]

Dalamnya laut bisa diduga. Dalamnya hati siapa tahu. Sampai sekarang, peribahasa itu masih sangat popular dalam pergaulan sosial sehari-hari. Sejak ilmu pengetahuan ditemukan dan dipelajari manusia jutaan tahun lalu, hingga saat ini tak ada satu pun penemuan ilmiah yang bisa menjawab isi hati manusia. Setumpuknya penelitian yang dilakukan para ahli  dari berbagai disiplin ilmu untuk mengetahui isi hati manusia dalam konteks kehidupan hasilnya selalu nihil.

Sesungguhnya Tuhan dengan Maha Kuasanya telah menciptakan hati dalam tubuh manusia sebagai hadiah istimewa. Benarkah? Apa istiwewanya hati manusia? Tahukah Anda bahwa Tuhan menciptakan hati  sebagai ruang khusus bagi manusia untuk menyimpan jutaan rahasia pribadinya.

Itulah istimewanya hati. Rahasia hati manusia hanya Dia yang tahu. Tuhan menjadikan hati manusia sebagai sarana komunikasi manusia denganNya. Tuhan mengetahui secara pasti sikap dan perilaku jujur atau dusta manusia kepadaNya melalui hati manusia.

Sifat-sifat ?Unik? Yang ada dalam hati manusia memiliki daya tarik yang luar biasa. Ketidakmampuan manusia dalam menerka isi hati seseorang, pada akhirnya melahirkan aneka istilah yang dikaitkan dengan hati. Misalnya, sakit hati, jatuh hati, pilihan hati, suara hati, nyanyian hati, buah hati, keras hati dan simbol-simbol hati lainnya.

Sampai sejauhmana peran hati dalam hidup manusia? Apakah tindak-tanduk manusia lebih didominasi oleh otak (logika) atau hati (perasaan). Wooow … sungguh  sebuah pertanyaan sulit. Saya punya jawaban sederhana untuk menjawab pertanyaan di atas. Mudah-mudahan Anda puas.

Peran hati dalam diri manusia bersifat abstrak. Kalau pun peran hati dikonversi ke dalam sikap dan perilaku manusia, maka yang terlihat adalah sisi perspektif  humanis. Artinya, manusia harus berperilaku manusiawi dan bersifat sosial. Misalnya berbagi kebaikan dalam pergaulan sosial tanpa ada kepentingan apapun. Di sisi lain, logika manusia (cara berpkir),  acapkali dipenuhi oleh aneka ragam kepentingan  yang  bersifat individualis. Sekarang, mana yang Anda pilih,  selalu berpikir logis atau mendengarkan bisikan  hati? Salam teh tubruk hangat,  sruput dulu brooo ...[Wawan Kuswandi]

www.Fb.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

#INDONESIAComment

Deenwawan.Photogallery.Com

Gampangnya Menjadi Muslim Bodoh [OPINI]

Menjadi muslim bodoh termyata sangat gampang dibandingkan menjadi muslim cerdas. Status sebagai muslim bodoh menjadi pilihan favorit sebagian besar penganut agama islam di Jakarta. Bahkan, mereka bangga dengan predikat muslim bodoh. Lho kok bisa? Ya bisalah. Contoh kasus muslim bodoh yang beberapa waktu lalu sempat heboh dalam pemberitaan media massa ialah kaum muslim tidak mau menyolatkan jenazah muslim yang mendukung salah satu cagub DKI yang diduga penista agama.

Beberapa spanduk yang bersifat provokatif juga tersebar di beberapa masjid yang bertuliskan “masjid ini tidak menyolatkan jenazah pendukung penista agama’. Sebenarnya, agama tidak ada hubungannya dengan politik. Manusialah yang selalu merusak nilai-nilai agama karena kepentingan politik.

Sekarang Anda sudah paham khan. Jadi muslim bodoh itu sangat gampang. Pertanyaannya  ialah apakah muslim Indonesia memang berkeinginan menjadi muslim bodoh? Kalau memang menjadi muslim bodoh itu merupakan cita-cita penganut agama islam di Indonesia, maka secara pribadi saya  sangat prihatin. Setahu saya, semua manusia yang hidup di alam semesta ini, baik para penganut agama maupun kelompok yang anti tuhan (atheis),  umumnya mereka  bercita-cita menjadi manusia cerdas.

Lantas kenapa sebagian besar penganut agama islam di Indonesia bangga dan mau menjadi muslim bodoh? Apakah Anda termasuk orang yang lebih suka menjadi muslim bodoh? Silahkan Anda pikirkan baik-baik, saya mau nyicipin pisang goreng anget dulu dan menyeruput secangkir teh pahit. [Wawan Kuswandi]

www.Fb.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

#INDONESIAComment

Deenwawan.Photogallery.Com

Perilaku Sampah Pansus Angket KPK [OPINI]

Menyaksikan sikap dan perilaku  sebagian besar  anggota parlemen yang bermental pengecut di layar televisi sungguh mengasyikkan. Anggap saja seperti nonton opera sabun serial televisi Amerika atau menyaksikan sinetron stripping TV lokal. Setiap hari ada saja tokoh pengecut yang dilakoni ‘aktor politik’  Senayan. Setiap lakon yang dimainkan memiliki skenario sendiri-sendiri.

Judulnya juga terkadang lucu dan menggelitik. Contohnya ialah beberapa oknum anggota DPR RI yang tertangkap tangan KPK saat melakukan korupsi,  masih tidak mau mengaku alias membantah. Sejumlah anggota parlemen asyik tidur nyenyak di kursi rakyat saat rapat paripurna atau sidang pleno juga sudah sering terjadi. Bahkan, ada oknum angota parlemen tertangkap basah saat sedang  pesta  seks dan narkoba di hotel berbintang. Tidak sedikit pula oknum wakil rakyat ini melakukan pemerasan dan meminta saham kepada perusahaan asing maupun BUMN. Ada juga anggota DPR yang tidak mau melaporkan harta kekayaannya kepada LHKPN.

Kasus terbaru kelakuan sampah segerombol oknum anggota DPR ialah mereka ngotot membuat pansus angket KPK. Katanya sih, biar proses penegakkan hukum yang dilakukan KPK tidak menyimpang dari UU. Tapi apa benar begitu? Itu mah... Kalimat klise. Rakyat juga tahu apa yang menjadi motivasi mereka untuk membuat pansus angket KPK. Ujung-ujungnya mereka ingin ?Membunuh? KPK untuk melindungi komplotannya dalam merampok uang negara. Rakyat tidak boleh diam, pansus angket KPK harus dilawan dengan cara apapun. Lebih baik tidak ada anggota DPR, daripada keberadaan mereka justru membuat negara ini amburadul.

Sungguh memuakkan melihat tindak-tanduk komplotan oknum parlemen yang wara-wiri mempropagandakan pansus angket KPK ke berbagai media massa maupun sosial media. Penyimpangan sosial dan kelakukan bejad mereka merampok uang rakyat dalam proyek E-KTP tidak akan pernah berakhir karena mereka menantang perang KPK. Keberanian KPK menangkap oknum-oknum yang terlibat proyek E-KTP  tidak akan berpengaruh sedikit pun untuk mengubah mental rakus dan serakah mereka.

Jalan satu-satunya untuk menghancurkan komplotan perampok dana E-KTP ini adalah gerakan rakyat secara overall untuk mengepung gedung parlemen di Senayan dan mengadili secara langsung para perampok E-KTP serta membubarkan pansus angket KPK, sekaligus mencopot mandat mereka sebagai wakil rakyat.

Sudah selayaknya rakyat melakukan perlawanan frontal terhadap mereka kalau negara ini tidak mau hancur. Mulai hari ini dan seterusnya rakyat harus bertindak keras dengan berbagai cara untuk menyelamatkan negara dan bangsa. Satu kata untuk pansus angket KPK,  ‘RAKYAT SIAP  MELAWAN SAMPAI TITIK DARAH PENGHABISAN’. [Wawan Kuswand]

www.Fb.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

#INDONESIAComment

Deenwawan.Photogallery.Com