Thursday, August 6, 2020

Tangkap Koruptor Proyek E-KTP Atau Pengadilan Rakyat [OPINI]

Korupsi tak akan pernah berakhir di Indonesia, kalau pelakunya tidak ditangkap dan dihukum mati. Pelaku korupsi juga bukan orang miskin. Mereka rata-rata adalah anggota parlemen, pejabat negara dan pengusaha yang duitnya sudah lebih dari cukup. Contoh kasus teranyar soal mega skandal korupsi ini ialah proyek E-KTP yang merugikan negara lebih dari Rp 2 triliun.

Sejumlah wakil rakyat yang bercokol di Senayan memang sangat dikenal sebagai perampok ulung uang negara. Perilaku rakus dan serakah sudah menjadi gaya hidup mereka. Sandiwara yang dimainkan para koruptor ini sungguh-sungguh memilukan. Mereka selalu berteriak-teriak membela rakyat. Tapi, faktanya mereka merampok uang negara. Kejahatan keji ini tak bisa didiamkan, rakyat bersama KPK harus melawan oknum-oknum politisi yang semakin bejad.

KPK tak perlu takut menangkap oknum korup, rakyat siap mendukung dengan mengawal kasus ini hingga tuntas. KPK jangan hanya gembar-gembor menyebut nama atau menyelidiki oknum korup E-KTP, namun ujung-ujungnya kasus ini menghilang. Tangkap koruptor E-KTP atau rakyat akan mengadili sendiri para koruptor melalui pengadilan rakyat.

Selain menangkap para pelaku, KPK juga bertanggung jawab untuk mengumpulkan uang rakyat yang raib hingga lebih dari Rp 2 triliun. Kalau pun ada anggota parlemen yang sudah mengembalikan uang hasil korupsi E-KTPnya ke KPK, tidak berarti proses hukum terhenti. Hukum harus tetap ditegakkan sebagai panglima untuk menjaga kewibawaan negara dan melindungi negara dari komplotan perampok Senayan.  Bahkan,  kalau perlu  hukum mati para koruptor. [Wawan Kuswandi]

www.Facebook.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

#INDONESIAComment

Deenwawan.Photogallery.Com

RA Kartini Menangis

Suasana euforia terpancar dari wajah sejumlah pelajar SD di Jakarta ketika tubuhnya dibalut pakaian kebaya adat dan rambut bersanggul saat memperingati hari lahir RA Kartini tanggal 21 April setiap tahun. Namun sayang,  di hari kelahirannya  RA  Kartini (21 April 1879) justru malah Menangis.  Apa yang Kartini tangisi?

Kartini  terdiam. Wajahnya tertunduk lunglai. Dua bongkah airmatanya yang bening meleleh jatuh menyentuh bumi. Tak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya. Saya terdiam. Perlahan pikiran saya menerawang mencoba mencari tahu apa yang membuat Kartini menangis sedih. Tampak, begitu pedih jiwa dan raga Kartini.

Gelap mulai  rapat memeluk malam. Simponi desir angin dan bebunyian binatang senja terdengar pelan menyambut jejeran kilauan bintang yang menari di langit. Dialog imajiner saya dengan Kartini tersendat. Saya tak sanggup lagi melanjutkan kongkow santai dengan tokoh emansipasi ini. Saya tak berani berkata untuk menyapu isak tangisnya.

“Maaf,…saya tidak bisa melanjutkan dialog ini,” suara lembut kartini terdengar lirih menyapu hening yang tak bertepi. Saya hanya menganggukkan kepala sekejab  tanpa berani memandang wajahnya.

“Saya akan menulis surat. Goresan pena ini sebagai pengganti dialog imajiner Anda dengan saya. Tolong sampaikan isi pesan surat ini kepada semua perempuan Indonesia,” ucapnya pelan. Saya  masih terdiam. Kartini mulai menulis di hadapan saya sambil sesekali suara isak tangis kecilnya merayap membelah sepi. Usai memberikan suratnya kepada saya, Kartini  pamit. Dia  berjalan gontai memasuki sebuah pintu besar berukir penuh cahaya yang menebarkan harum yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Kartini menghilang dari pandangan saya.

Untuk Perempuan Indonesia …

Saya bersyukur menjadi putri bangsa Indonesia yang penuh warna. Saya percaya, perempuan Indonesia akan selalu menjadi perempuan sejati  dalam  keluarga. Pelihara dan jagalah  hak hakiki perempuan. Jadilah seorang ibu yang ikhlas membimbing moral anak-anak Indonesia yang kelak bisa  membawa kebermanfaatan hidup kepada sesama makhluk ciptaan Tuhan.

Dampingilah suami dengan tulus dan sabar. Dekatkanlah jiwa dan ragamu dengan ruh keluargamu. Jagalah dirimu dari gelombang persamaan hak dan drajat yang bisa melupakan kodrat keperempuananmu. Tunaikanlah kewajibanmu untuk keluarga. Ketahuilah bahwa emansipasi yang kutitipkan kepadamu  hanyalah sebuah proses pelepasan diri dari kungkungan budaya.

Emansipasi bukanlah sebuah  kebebasan dan persamaan hak yang terlampau jauh dan melampaui batas raga  seorang perempuan.  Jadilah perempuan Indonesia yang selalu berarti bagi keluargamu untuk selama-lamanya. Semoga Sang Maha Cahaya meridhoi semua perjalanan hidup perempuan Indonesia. Aamiin… Salam, RA Kartini. [Wawan Kuswandi]

Misteri Perempuan & Tidur

Tak banyak orang tahu bahwa antara perempuan dan tidur memiliki misteri yang sama. Berbagai kajian ilmiah terus digarap untuk mendapatkan jawaban. Hasilnya, hingga kini hubungan antara perempuan dan tidur masih menjadi teka-teki sepanjang zaman.

Setelah  membaca judul diatas, saya menduga mungkin ada aura negatif yang terbersit dalam pikiran Anda. Bagi saya, hal itu wajar saja karena menyangkut perbedaan persepi. Namun, saya berharap pikiran Anda tidak bergerilya menembus sesuatu yang berkonotasi kotor terhadap artikel ini. Tidur dan perempuan atau perempuan dan tidur sudah menjadi kata ‘pasaran’ dalam kehidupan manusia.

Seorang saintis dari England University of Technologi, Prof. DR Ray Meddis menolak keras sejumlah hasil penelitian ilmiah yang mengatakan bahwa waktu tidur ideal manusia adalah enam sampai delapan jam. Kualitas tidur tidak ditentukan oleh kuantitas waktu. Tidur berkualitas adalah tidur yang diawali  dengan mengantuk (dowsiness). Apa itu misteri tidur? Anda  tidak akan pernah tahu,  apakah Anda bisa  bangun kembali setelah tidur atau Anda akan pulang kepangkuanNya. Tidur membawa Anda dalam dimensi antara hidup dan mati. Ada malaikat ‘spesial’ yang memegang ‘remote’ perjalanan ruh Anda saat sedang tidur. Dalam kajian Ilmiah,  tidur berfungsi untuk menyehatkan dan menyegarkan fisik.

Nah, sekarang Apa misteri dari seorang perempuan?  Novel Sherlock Holmes dalam episode Skandal in Belgravia, penulis legendarisnya Sir Arthur Conan Doyle menyisipkan tokoh perempuan bernama Irine Adler. Perempuan itu berhasil mengalahkan Sherlock Holmes sekaligus membuat detektif ternama itu tergila-gila jatuh cinta kepadanya. Mengapa penulis memilih seorang perempuan untuk mengalahkan Sherlock Holmes? Karena perempuan adalah makhluk indah dan lemah yang sebenarnya kuat serta penuh misteri.

Perempuan memiliki kekuatan yang luar biasa. Ketika seorang perempuan melahirkan,  jiwa dan raganya berada dalam batas tipis antara hidup dan mati. Miliaran manusia penghuni bumi berasal dari rahim perempuan. Baik dan buruknya kehidupan manusia di alam semesta berawal dari sikap dan perilaku perempuan (ibu)  dalam mendidik  anak-anaknya.

Perempuan mampu mengurus anak, suami dan dirinya sendiri secara bersamaan dan dalam kondisi apapun. Misteri kehidupan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Biarlah misteri antara perempuan dan tidur menjadi rahasia Tuhan yang wajib kita syukuri. [Wawan Kuswandi]

Wednesday, August 5, 2020

Isu Dibalik Pembubaran HTI

Sebagian publik di negeri ini mungkin kaget bercampur gembira setelah mengetahui bahwa pemerintah Indonesia melalui Menkopolhukam Jenderal (purn) Wiranto membubarkan ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Kenapa hanya HTI yang dibubarkan, sedangkan FPI, FUI, GNPF-MUI dan sejumlah ormas radikal lainnya tidak? Saya sih, biasa-biasa saja mendengar HTI dibubarkan. Menurut sumber saya yang ngakunya pernah menjadi simpatisan di HTI [saya antara percaya dan tidak, namun info ini saya anggap saja sebagai data sekunder], sebenarnya pemerintah sudah mengamati dan mencium tindak-tanduk  HTI sejak tahun 2009 silam. HTI sudah menyiapkan Indonesia menjadi negara khilafah pada tahun 2019 mendatang. Namun, ketika itu (2009), sejumlah elit HTI terpecah menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama,  elit HTI yang pro NKRI menjadi negara khilafah. Sedangkan kelompok kedua, elit HTI yang kontra NKRI menjadi negara khilafah. Konflik internal dua elit di tubuh HTI ini terendus BIN. Kelompok elit HTI yang kontra NKRI menjadi negara khilafah membubarkan diri dan kembali ke ormas-ormas islam non radikal, diantaranya ke NU dan Muhammadiyah. Sedangkan kelompok elit HTI yang pro NKRI menjadi negara khilafah menyusup ke FPI, FUI dan GNPF-MUI dan MUI. Kalangan elit HTI pro NKRI menjadi negara khilafah ini berhasil menduduki posisi-posisi penting di FPI, FUI, GNPF-MUI dan MUI, maka tak heran ketika usai pilpres tahun 2014 lalu, Indonesia mulai diramaikan dengan gerakan aksi demo  FPI, FUI dan GNPF-MUI dan membawa-bawa isu PKI, khilafah, kafir, anti pemimpin nonmuslim dan penerapan syariat islam serta isu masuknya ISIS di Indonesia.

Seiring berjalannya waktu,  puncak gerakan massa yang didalangi elit HTI  terjadi pada saat dugaan kasus penistaan agama yang dituduhkan ke Ahok (yang mungkin saja sudah direkayasa jauh-jauh hari sebelumnya]. Ormas FPI, GNPF-MUI dan FUI, secara terbuka berani menyebut aksi demonya dengan sebutan aksi bela islam 1/2/3 serta mengumbar isu tolak kriminalisasi ulama.

Elit HTI yang pro NKRI menjadi negara khilafah terus-menerus melebarkan sayap penyusupannya ke beberapa parpol yang berbasis agama,  ke masjid dan musholla, lembaga pengajian anak-anak, ibu-ibu dan bapak bapak, bahkan sampai ke lembaga pendidikan mulai dari tingkat TK sampai univesitas dan dari sekolah dasar agama sampai pesantren.

Berdasarkan fakta dan data ini, negara melalui Polri dan militer serta Menkopolhukam mulai melakukan pengawasan ketat dan menyusun strategi untuk membendung penyusupan kelompok HTI. Langkah pertama negara ialah dengan membubarkan HTI sebagai akar dari semua gerakan aksi radikal sejumlah ormas. Negara berharap dengan bubarnya HTI akan melemahkan gerakan radikal FPI, FUI dan GNPF-MUI yang selama ini  ‘dikendalikan’ oleh elit HTI.

Tindakan negara membubarkan HTI sudah  tepat. Namun,  tugas berat lainya yang harus dilakukan pemerintah bersama rakyat ialah negara harus secepatnya memutus jaringan elit HTI yang menyusup ke ormas, parpol dan lembaga pendidikan nasional dan institusi keagamaan  dengan cara menerapkan secara tegas UU yang berkaitan dengan ideologi Pancasila dan UUD 1945. Negara juga harus segera menerapkan sanksi hukum kepada individu maupun kelompok-kelompok yang ingin menjadikan NKRI sebagai negara khilafah.

Pada bagian akhir, sumber saya mengemukakan kekecewaannya yaitu kenapa pemerintah hanya membubarkan HTI? Seharusnya FPI, FUI dan GNPF-MUI dan lembaga MUI juga dibubarkan karena menurutnya, ormas-ormas itu sudah melencengkan visinya yaitu  ingin membawa Indonesia menjadi negara khilafah.  Benar atau tidaknya informasi yang tertulis dalam artikel ini (berdasarkan keterangan sumber saya), mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan bagi negara untuk segera melakukan investigasi serius terhadap ormas-ormas radikal yang ada.  Ngeteh dulu brooo…(Wawan Kuswandi)

www.Fb.Com/INDONESIAComment/

plus.Google.Com/ INDONESIAComment

#INDONESIAComment

Deenwawan.Photogallery.Com

Isu Gender Dalam Cinta

Isu gender menjadi momok menakutkan bagi sebagian besar perempuan  Indonesia dalam menyatakan rasa cintanya terlebih dahulu kepada laki-laki pujaan hatinya. ‘Ungkapkanlah rasa cinta Anda kepada orang yang Anda sayangi’. Kalimat diatas jelas berlaku sama, baik bagi laki-laki atau perempuan yang sedang merasakan nikmatnya jatuh cinta. Namun, semudah itukah seseorang (perempuan atau laki-laki) berani mengungkapkan perasaan cintanya? Anda pasti punya jawaban sendiri.

Inti persoalannya ialah apakah Anda berani mengakui dengan jujur dalam mengungkapkan perasaan cinta Anda kepada orang yang Anda sayangi? Atau mungkin juga Anda menyembunyikan rasa cinta itu rapat-rapat dalam hati karena faktor gengsi.  Dalam realitas kehidupan,  berkata jujur memang sulit.  Mengapa seseorang begitu sulit mengungkapkan rasa cintanya dengan jujur?

Di  Indonesia, isu gender masih menjadi hal penting dalam masalah cinta.  Seorang perempuan dianggap ‘nyeleneh’ atau melakukan perbuatan tabu, bila terlebih dahulu menyatakan  cintanya kepada laki-laki. Dominasi isu Gender masih sangat kuat dalam masalah cinta.

Sesungguhnya, isu gender itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan cinta.  Justru, isu gender seringkali dimanipulasi oleh sebagian besar perempuan Indonesia untuk menutupi sikap  gengsinya. Disisi lain, berkata jujur adalah cara terbaik  untuk mengungkapkan rasa cinta.  Dalam soal cinta,  derajat laki-laki dan perempuan  tidak ada perbedaan. Tidak ada aturan baku yang mengatakan bahwa laki-laki harus terlebih dahulu menyatakan rasa cintanya kepada perempuan. Kalau memang perempuan mau lebih dahulu menyatakan cintanya kepada laki-laki, mengapa tidak!.

Mengupas lika-liku asmara manusia tidak akan pernah berujung. Yang membuat masalah cinta jadi runyam ialah bagaimana seandainya, bila si laki-laki maupun si perempuan sama-sama tidak mau jujur dalam menyatakan rasa cinta mereka?

Filsuf tersohor Yunani, Plato (427 SM) sang pencetus Cinta Platonis menggambarkan bahwa Cinta Platonis adalah cinta yang hanya ada di dalam pikiran seseorang. Cinta Platonis ialah cinta yang tidak diungkapkan seseorang kepada orang yang dicintainya. Cinta Platonis identik dengan cinta diam-diam  atau cinta misterius. Pernahkah Anda  mengalami Cinta Platonis? Hanya Anda yang tahu.

Rasa cinta adalah  anugerah terindah dari Tuhan untuk manusia.  Tuhan punya alasan kuat mengapa dalam hati  manusia dimasukkan  perasaan cinta.  Cinta adalah warna abadi yang digoreskan Tuhan dalam kanvas kehidupan asmara manusia. Warnailah hidup Anda dengan cinta.  Jadi, mulai sekarang ungkapkanlah dengan jujur  rasa cinta Anda kepada seseorang yang Anda sayangi. Jangan jadikan isu gender menghalangi rasa cinta Anda. Percayalah, dengan cinta hidup Anda penuh warna. [Wawan Kuswandi]

Perempuan & Ziarah Makam

Sebagian besar ulama Indonesia masih berbeda pendapat menyangkut ziarah makam yang dilakukan perempuan.  Lantas, perlukah seorang perempuan melakukan ziarah makam? Syaikh Ibrahim Duwaiyyan mengatakan, jika seorang perempuan secara kebetulan berjalan melewati kuburan dan dia memberi salam serta mendo’akan penghuni kubur, maka hal ini baik (tidak mengapa) sebab perempuan tersebut tidak sengaja melewati pekuburan” (Manar As Sabil Fi Syarh Ad Dalil).

Sebagian besar ulama lainnya menegaskan bahwa perempuan tidak diperbolehkan melakukan ziarah makam karena kemungkinan besar akan terjadi hal-hal yang bisa bertentangan dengan syari’at islam. Misalnya, mereka menangis dengan keras, tabarruj (berhias), ikhtilath (bercampur baur dengan laki-laki), memamerkan perhiasan atau kecantikan, menjadikan kuburan sebagai tempat tamasya dan menghabiskan waktu dengan obrolan tidak berguna.

Ada juga  ulama yang berpendapat  bahwa perempuan boleh melakukan ziarah makam, asal tidak melanggar syariat islam seperti yang disebutkan diatas. Persoalan boleh dan tidaknya perempuan melakukan ziarah makam, sudah terjadi sejak lama. Bahkan, perdebatan ini tidak pernah mencapai titik temu.

Masing-masing ulama tetap berpegang teguh kepada hadist yang diyakini kebenarannya. Sampai saat ini, banyak perempuan Indonesia masih melakukan ziarah makam. Selama ziarah makam yang mereka lakukan tidak menyalahi tuntunan yang diberikan Rasulullah SAW, maka boleh-boleh saja.

Dalam konteks sosial, ziarah makam yang dilakukan perempuan memang bukan hal mutlak yang harus dilakoni. Namun demikian, bisa saja seorang perempuan melakukan ziarah makam asalkan dengan niat hanya untuk memberikan do’a kepada ahli kubur.

Pada awalnya, Rasulullah SAW melarang umat islam melakukan ziarah makam dengan tujuan untuk menghapus tradisi Jahiliyah yang berbangga-bangga dengan ziarah makam. Tetapi, kemudian Rasulullah SAW memberi keringanan hukum dengan memperbolehkan umat islam melakukan ziarah makam. Tujuannya ialah agar manusia  mengingat mati dan mempersiapkan diri untuk kehidupan akherat.

Perempuan pun disyariatkan melakukan ziarah makam dengan syarat tidak boleh terlalu sering melakukannya. Abu Hurairah berkata, “Rasulullah SAW melaknat wanita yang sering berziarah kubur.” (HR. at Tirmidzi 1056, Ibnu Majah 1576 dan dinilai oleh hasan Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil 762). Bagi perempuan yang sedang haid, dia tidak terhalangi untuk berziarah karena seseorang tidak disyariatkan berada dalam keadaan suci dari hadats kecil maupun besar  saat berziarah makam.  Wassalam. [Wawan Kuswandi]

Tuesday, August 4, 2020

Netizen Pemuja Fitnah

Fitnah semakin merajalela di jagat sosial media. Fitnah terus membabi-buta menghantam kebenaran, kebaikan dan kejujuran manusia. Fitnah dapat dilakukan secara massal maupun individual. Fitnah tak mengenal SARA. Fitnah sangat kejam dan sadis.  Fitnah menjadi ideologi yang  sangat digemari sebagian besar netizen Indonesia. Fitnah dipuja dan dipuji para netizen.

Tahukah kita bagaimana dahsyatnya bahaya fitnah, baik yang terucap secara lisan maupun yang tertulis di sosial media? Yang pasti manusia akan saling hujat. Efek paling buruk akibat fitnah adalah antar manusia saling bunuh?

Allah SWT berfirman tentang fitnah dalam surat Ali ‘Imran ayat 7, “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal”.

Saya sangat prihatin ketika fitnah terus-menerus dishare para netizen di sosial media. Hampir sebagian besar netizen tidak kritis dan teliti dalam membaca dan melihat info/berita/foto/video yang tersebar di sosial media. Lebih parah lagi, para netizen penyebar fitnah ini mengklaim membela agama dan mengatasnamakan Tuhan dalam menyebar fitnah.

Dampak  fitnah begitu mengerikan bagi kehidupan manusia di alam raya. Di sisi lain, para netizen penyebar fitnah ini tertawa puas menyaksikan kehidupan manusia hancur ditelan gelombang fitnah. Pertanyaannya ialah masihkah kita terus-menerus menyebar fitnah antar sesama manusia? Mari kita renungkan bersama. Ngeteh dulu bro, sambil nyicipin singkong rebus, srupuuuuttt…(Wawan Kuswandi)